SNU//Medan – Pemerintah diminta segera mengambil langkah tegas dalam menangani penyebaran virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi di Sumatera Utara.
Langkah cepat dianggap penting guna menjaga ketahanan pangan nasional sesuai program Astacita Presiden dan Wakil Presiden RI, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi peternak lokal.
Harapan tersebut disampaikan Ketua DPD Persatuan Peternak Babi Indonesia (PPBI) Sumut, Heri Ginting, dalam Dialog Kolaborasi PPBI Sumut dengan Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Mencapai Ketahanan Pangan Nasional, yang digelar di Medan, Selasa (11/11/2025).
“Permasalahan utama yang dihadapi peternak babi rumahan saat ini adalah penularan virus ASF. Jika tidak segera dimitigasi, populasi babi di Sumut bisa menurun drastis,” ujar Heri.
Menurutnya, penurunan populasi babi telah menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, dengan penurunan pendapatan peternak mencapai sekitar 65 persen.
Ia menegaskan, mitigasi dan pencegahan penularan ASF perlu segera dilakukan, mengingat hingga kini vaksin ASF belum tersalurkan ke para peternak.
“Kami berharap pemerintah segera mendistribusikan vaksin ASF sebagaimana vaksin PMK untuk sapi dan domba. Mari kita berkolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan peternak,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Heri juga memberikan beberapa langkah pencegahan agar ternak tidak terpapar virus ASF:
Menjaga kebersihan lingkungan kandang dan sekitarnya.
Membatasi lalu lintas orang yang keluar masuk kandang.
Mengubur bangkai babi yang mati akibat ASF secara benar agar tidak menular.
Di akhir sambutannya, Heri mengajak seluruh anggota DPD PPBI Sumut dan masyarakat peternak agar tetap menjaga situasi Kamtibmas kondusif di wilayah Sumut, khususnya di Kota Medan, meskipun sedang menghadapi ujian akibat wabah flu babi.
Peternak Babi Turut Bantu Atasi Masalah Sampah
Sementara itu, Ketua DPP PPBI Sutrisno Pangaribuan menambahkan, para peternak babi di Kota Medan selama ini juga memiliki peran penting dalam pengelolaan limbah dan sampah rumah tangga.
“Peternak babi bukan hanya memelihara ternak, tapi juga membantu mengatasi persoalan sampah dan bau di kota. Limbah makanan sisa rumah tangga mereka olah menjadi pakan ternak,” jelas Sutrisno.
Ia menegaskan, keberadaan peternak babi turut mendukung upaya menciptakan lingkungan bersih dan berkelanjutan. “Jangan lihat ternaknya saja, tapi lihat peran peternak dalam mengelola limbah menjadi sesuatu yang berguna,” katanya menyemangati para peternak.
Edukasi dan Pembagian Sembako
Dialog yang diikuti sekitar 215 peternak dan warga berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam sesi tanya jawab, salah satu peternak, Lenta Sumiati Br Hutabarat, menanyakan tanda-tanda babi yang terpapar virus ASF.
Menjawab pertanyaan itu, Heri Ginting menjelaskan, ciri-ciri babi yang terinfeksi ASF antara lain:
Tidak mau makan.
Mengalami demam dan mengeluarkan lendir dari hidung.
Timbul bercak merah seperti bekas gigitan nyamuk.
Mengeluarkan darah dari mulut, hidung, dan kelamin.
Kotoran mengeras mirip kotoran kambing.
Urine berwarna kuning kecoklatan.
Kegiatan ditutup dengan pembagian paket sembako kepada seluruh peserta yang hadir. (Rizky)
