AgamaBudayaGaya hidupRagam Daerah

PRIMA Gelar Tradisi Tumpengan Sambut 1 Muharam 1448 H

119
Ketua PRIMA desa Citeureup kecamatan Dayeuhkolot Tri Rahmanto (kanan) serahkan potongan tumpeng di Kampung Lamajang, Senin (15/6/2026)

Kab Bandung/ secondnewsupdate.co.id – Menjelang malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Lamajang Pentas, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, menggelar tradisi tumpengan pada Senin (15/6/2026) malam. 

Kegiatan yang sarat makna tersebut menjadi wujud pelestarian budaya lokal yang dipadukan dengan nilai-nilai ajaran Islam, berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa bersama, serta tausiah mengenai makna bulan Muharam sebagai awal perjalanan tahun baru Hijriah yang identik dengan semangat introspeksi, pembaruan diri, keselamatan, dan keberkahan.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tradisi tumpengan menjadi salah satu agenda utama sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat rezeki, kesehatan, dan kebersamaan yang diberikan.

Penasehat PRIMA, Tri Rahmanto, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya daerah dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.

“Tradisi seperti tumpengan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, menumbuhkan rasa syukur, serta meningkatkan kepedulian sosial. Kami ingin generasi muda tetap mengenal budaya warisan leluhur sekaligus semakin kokoh keimanan dan akhlaknya,” ujar Tri.

Suasana acara berlangsung hangat dan penuh keakraban. Kegiatan dihadiri oleh anggota PRIMA, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga sekitar yang antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai. 

Setelah doa bersama, nasi tumpeng dan berbagai hidangan pendamping dibagikan untuk dinikmati bersama sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan berbagi kebahagiaan di awal tahun Hijriah.

Melalui kegiatan tersebut, PRIMA berharap tradisi-tradisi positif yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur dapat terus dilestarikan serta menjadi jembatan harmonis antara budaya warisan nenek moyang dengan ajaran agama, guna mewujudkan masyarakat yang berbudaya, beriman, dan rukun. (Apih)

Exit mobile version