Garut/secondnewsupdate.co.id – Semangat melestarikan adat dan budaya Sunda kembali digaungkan melalui penyelenggaraan Sawala Adat Budaya Sunda Ke-X yang mengusung tema “Ngalungsurkeun Pusaka Indung”.
Kegiatan budaya yang sarat makna tersebut digelar di Museum Bumi Nyai Tangulun, Kampung Cianten, Desa Ciwangi, Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut, Selasa (7/7/2026).
Acara ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang dialog budaya yang mempertemukan para tokoh adat, budayawan, akademisi, seniman, unsur pemerintah, serta masyarakat.
Tujuannya tidak hanya memperkuat pelestarian budaya Sunda, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus modernisasi.
Seluruh rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para karuhun yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.
Para peserta tampil mengenakan pakaian adat Sunda, menghadirkan suasana yang khidmat, sakral, dan penuh kekeluargaan.
Puncak acara ditandai dengan prosesi Ngalungsurkeun Pusaka Indung, sebuah ritual adat yang mengandung filosofi mendalam tentang pewarisan amanah, kebijaksanaan, nilai kehidupan, serta tanggung jawab moral dalam menjaga adat istiadat dan jati diri bangsa.
Prosesi tersebut bukan sekadar menampilkan benda-benda pusaka peninggalan leluhur, tetapi juga menjadi simbol warisan spiritual, sejarah, dan kearifan lokal yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Selain prosesi adat, kegiatan juga diisi dengan sesi sawala atau diskusi budaya yang mengangkat pentingnya pelestarian budaya Sunda melalui pendidikan, seni, dan keterlibatan generasi muda.
Para narasumber menekankan bahwa budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan fondasi utama dalam membentuk karakter masyarakat yang berakhlak, beradab, dan memiliki kecintaan terhadap tanah kelahirannya.
Pemilihan Museum Bumi Nyai Tangulun sebagai lokasi penyelenggaraan memiliki makna tersendiri.
Museum tersebut dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian benda-benda bersejarah dan budaya Sunda di Kabupaten Garut.
Keberadaannya diharapkan semakin berkembang menjadi pusat edukasi budaya sekaligus destinasi wisata sejarah yang memperkenalkan kekayaan tradisi Sunda kepada masyarakat luas.
Dalam kegiatan itu turut dipamerkan berbagai hasil bumi, perlengkapan adat, hingga benda-benda pusaka yang menjadi simbol kemakmuran, rasa syukur, serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana penuh gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda.
Melalui penyelenggaraan Sawala Adat Budaya Sunda Ke-X, para peserta berharap lahir komitmen bersama untuk terus menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan budaya leluhur sebagai kekayaan bangsa yang tak ternilai.
Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan zaman, pelestarian budaya dinilai menjadi benteng penting dalam menjaga identitas dan jati diri masyarakat.
Seperti pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut, “Ngamumule budaya lain ngan ukur ngajaga pusaka, tapi ngajaga jati diri sangkan teu leungit ku robahna jaman,” yang bermakna bahwa melestarikan budaya bukan sekadar menjaga benda pusaka, melainkan menjaga identitas agar tidak hilang oleh perubahan zaman. (Agung)
















