BeritaInformatikaKasusKesehatanPeristiwa

SPPG Bojong Banjarwangi Bantah Kelalaian MBG, Ahli Gizi Sebut Dugaan Pecahan Kaca Berpotensi Sabotase

114
Foto kiri : Temuan serpihan yang diduga pecahan kaca pada salah satu ompreng MBG di SD Jayabakti 1 menjadi perhatian. Kasus ini diharapkan segera diusut hingga tuntas. Foto Kanan : Ahli Gizi SPPG Bojong Banjarwangi, Ramzi Muhammad Siraj, didampingi Akuntan Rifqi Fadhlan Sumaryono, usai diwawancarai

Jawa Barat, Garut l secondnewsupdate.co.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bojong Banjarwangi memberikan klarifikasi terkait temuan benda yang diduga pecahan kaca di dalam ompreng Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima seorang siswa SD Jayabakti 1.

Pihak SPPG menegaskan, hingga saat ini tidak ditemukan indikasi kelalaian dalam proses produksi maupun distribusi makanan.

Ahli Gizi SPPG Bojong Banjarwangi, Ramzi Muhammad Siraj, didampingi Akuntan Rifqi Fadhlan Sumaryono, menjelaskan bahwa setiap tahapan penyajian makanan dilakukan sesuai prosedur dengan pengawasan berlapis, mulai dari persiapan bahan, proses memasak, pemorsian hingga distribusi ke sekolah-sekolah penerima manfaat.

Menurut Ramzi, seluruh ompreng yang disiapkan telah melalui pemeriksaan ketat, mencakup kebersihan wadah, kesesuaian gramasi, kualitas menu, hingga pengecekan visual sebelum makanan dikirim.

Ia menilai sangat kecil kemungkinan serpihan yang diduga pecahan kaca berukuran sekitar empat sentimeter dapat lolos dari proses pemorsian tanpa diketahui petugas.

“Jika benar benda tersebut berada di dalam ompreng sejak proses pemorsian, tentu akan langsung terlihat. Bahkan ukurannya berpotensi melukai tangan petugas saat melakukan pengepakan. Karena itu, saya meyakini benda tersebut bukan berasal dari proses produksi di dapur,” ujar Ramzi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (27/7/2026).

Berdasarkan hasil evaluasi internal selama proses produksi berlangsung, pihaknya juga mengaku tidak menemukan adanya benda asing di dalam makanan yang dipersiapkan untuk para penerima manfaat.

Meski demikian, Ramzi mengungkapkan dugaan pribadinya bahwa tidak menutup kemungkinan terdapat unsur sabotase. 

Namun ia menegaskan pernyataan tersebut masih sebatas dugaan dan belum didukung bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Saya hanya menyampaikan dugaan pribadi. Apakah benar ada sabotase, siapa pelakunya, atau bagaimana kejadiannya, saya tidak bisa menyimpulkan karena semua itu harus dibuktikan melalui penyelidikan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, SPPG Bojong Banjarwangi juga memaparkan alur operasional dapur MBG yang dimulai sejak dini hari. Persiapan bahan makanan dilakukan sebelum pukul 02.00 WIB, dilanjutkan proses memasak, pemorsian sekitar pukul 04.00 WIB, kemudian distribusi dimulai pukul 06.30 WIB menggunakan dua kendaraan roda empat dan empat sepeda motor.

Saat ini, dapur SPPG Bojong Banjarwangi melayani sebanyak 1.710 penerima manfaat yang tersebar di 20 sekolah, ditambah 304 penerima manfaat kategori B3.

Ramzi mengakui tantangan utama yang masih dihadapi adalah distribusi menuju sekolah-sekolah yang berada di wilayah dengan akses jalan cukup sulit. Kondisi tersebut menyebabkan waktu pengiriman di beberapa lokasi terkadang mengalami keterlambatan hingga sekitar pukul 10.00 WIB.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pihaknya terus melakukan evaluasi sistem distribusi, termasuk mengoptimalkan penggunaan kendaraan roda dua agar pengiriman makanan ke daerah terpencil dapat berlangsung lebih cepat dan tepat waktu.

Menanggapi dugaan adanya serpihan kaca dalam ompreng MBG, SPPG Bojong Banjarwangi berharap seluruh proses penyelidikan dilakukan secara profesional, objektif, transparan, serta mengedepankan alat bukti dan fakta di lapangan. 

Langkah itu dinilai penting agar penyebab sebenarnya dapat terungkap dan tidak memunculkan spekulasi yang berpotensi menyesatkan opini publik.

Sementara itu, pihak SPPG menyatakan siap bekerja sama apabila diperlukan keterangan lebih lanjut dalam proses penyelidikan yang dilakukan aparat berwenang. (Asan)

Exit mobile version