BeritaInformatikaPendidikanRagam Daerah

Tragedi MPLS di Garut! Siswi MTs Tewas Tenggelam, Camat Cigedug Soroti Kegiatan Sekolah di Luar Lingkungan

116
Camat Cigedug Ma'mun Gunawan meminta evaluasi kegiatan sekolah di luar lingkungan demi keselamatan siswa.

Camat Cigedug meminta evaluasi kegiatan sekolah di luar lingkungan demi keselamatan siswa.

Garut/secondnewsupdate.co.id – Tragedi memilukan mewarnai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kabupaten Garut. 

Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Ulum meninggal dunia setelah tenggelam di sebuah bak penampung air desa di Kampung Cibolang, Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan, Kamis (16/7/2026).

Peristiwa yang mengguncang dunia pendidikan tersebut tidak hanya merenggut nyawa seorang pelajar, tetapi juga menyisakan duka dan trauma mendalam bagi para siswa yang menyaksikan langsung kejadian nahas itu.

Sedikitnya tujuh siswa lainnya harus mendapatkan penanganan medis karena mengalami syok, histeris, hingga sesak napas akibat tekanan psikologis.

Camat Cigedug, Ma’mun Gunawan, mengungkapkan dirinya langsung menuju Klinik Cidatar sesaat setelah menerima laporan adanya sejumlah siswa yang dilarikan untuk mendapatkan perawatan.

“Dari hasil komunikasi dengan dokter, secara umum kondisi fisik anak-anak dalam keadaan sehat. Namun mereka mengalami trauma berat. Ada yang histeris hingga kesulitan bernapas karena syok. Saat saya tiba di klinik, suasana benar-benar penuh kepanikan, tangisan, dan jeritan keluarga korban,” ujar Ma’mun saat ditemui, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan, hingga Jumat siang masih terdapat tiga siswa yang harus menjalani observasi medis karena kondisi psikologis mereka belum stabil. Salah satu di antaranya diketahui merupakan teman sebangku korban yang mengalami trauma paling berat.

Menurut Ma’mun, fokus utama pemerintah kecamatan saat kejadian bukan hanya memastikan pelayanan kesehatan bagi para siswa berjalan optimal, tetapi juga memberikan pendampingan kepada keluarga korban dan para orang tua yang dilanda kepanikan.

“Kami berusaha menenangkan ibu korban yang histeris beserta keluarga lainnya. Di sisi lain, kami memastikan seluruh siswa yang dirawat benar-benar mendapat pelayanan terbaik agar masyarakat tidak semakin cemas,” katanya.

Setelah proses visum dan pemakaman korban selesai dilaksanakan, Pemerintah Kecamatan Cigedug memfasilitasi musyawarah antara pihak sekolah dan keluarga korban. 

Pertemuan tersebut dihadiri unsur Forkopimcam, kepolisian, TNI, kepala puskesmas, pemerintah desa, hingga pihak sekolah guna mencari solusi dan langkah evaluasi.

Dalam forum tersebut, Ma’mun menyampaikan sejumlah masukan kepada pihak sekolah terkait pelaksanaan kegiatan MPLS yang dilakukan di luar lingkungan sekolah.

“Saya hanya menyampaikan evaluasi sebagai bentuk kepedulian. Soal aturan teknis MPLS tentu menjadi kewenangan Kementerian Agama. Yang paling penting sekarang adalah memastikan kejadian seperti ini tidak pernah terulang kembali,” tegasnya.

Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi lengkap serta penyebab pasti insiden yang merenggut nyawa siswi tersebut. Pemerintah Kecamatan Cigedug mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari pihak berwenang.

Tragedi ini menjadi peringatan serius bagi seluruh satuan pendidikan agar setiap kegiatan pembelajaran maupun MPLS di luar lingkungan sekolah disiapkan dengan perencanaan yang matang, disertai analisis risiko, pengawasan maksimal, serta penerapan standar keselamatan yang ketat. 

Keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama agar duka serupa tidak kembali terjadi. (Asan)

Exit mobile version