Garut, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Persoalan stunting pada balita dan pelayanan kesehatan jiwa menjadi dua perhatian serius UPT Puskesmas Sukamulya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut.
Berdasarkan data Puskesmas, tercatat sebanyak 501 balita mengalami stunting dari total 3.662 balita di wilayah kerjanya.
Sementara itu, terdapat 62 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masuk dalam pendataan pelayanan kesehatan jiwa.
Menghadapi kondisi tersebut, Puskesmas Sukamulya terus memperkuat berbagai langkah penanganan melalui pemantauan kesehatan, pemeriksaan medis, pemberian makanan tambahan (PMT), hingga kolaborasi lintas sektor bersama Dinas Kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Kepala UPT Puskesmas Sukamulya, Hj. Aida Triyani, melalui petugas Program Gizi, Fitri Wahyuni, serta pemegang Program Kesehatan Jiwa, Rani Nur Azizah, saat diwawancarai, Senin (2/11/2026).
Pemantauan Balita hingga Pemberian PMT
Petugas Program Gizi, Fitri Wahyuni, menjelaskan bahwa penanganan stunting dilakukan berdasarkan petunjuk pelaksanaan Kementerian Kesehatan.
Salah satu langkah utamanya adalah memantau pertumbuhan balita secara rutin melalui kegiatan Posyandu, terutama dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
Apabila ditemukan pertumbuhan anak yang tidak sesuai standar, petugas akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi serta menentukan apakah anak tersebut masuk kategori stunting.
“Kalau ditemukan berat badan dan tinggi badan yang tidak sesuai, kami melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Nantinya dokter yang melakukan penilaian untuk menentukan apakah anak tersebut mengalami stunting atau tidak,” jelas Fitri.
Bagi balita yang teridentifikasi mengalami stunting, Puskesmas memberikan pendampingan melalui pemantauan berkala serta intervensi gizi berupa pemberian makanan tambahan (PMT).
Bantuan tersebut antara lain berupa susu dan makanan bergizi lainnya yang dipasok melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.
Kendati demikian, Fitri mengakui ketersediaan bantuan masih terbatas sehingga penyalurannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi balita.
“Kalau ada anak yang ditemukan mengalami stunting, kami berikan PMT. Biasanya berupa susu yang dipasok dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, tetapi jumlahnya masih terbatas,” ungkapnya.
Tidak hanya mengandalkan dukungan pemerintah daerah, Puskesmas Sukamulya juga membangun sinergi dengan pemerintah desa.
Salah satu bentuk dukungannya berupa bantuan yang bersumber dari anggaran desa, seperti susu dan telur untuk balita yang membutuhkan tambahan asupan gizi.
Berdasarkan data UPT Puskesmas Sukamulya, sebanyak 501 balita tercatat mengalami stunting dari total 3.662 balita di wilayah kerjanya.
Angka tersebut menjadi perhatian penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas pemantauan pertumbuhan anak, memperkuat pelayanan Posyandu, serta memastikan intervensi gizi dapat menjangkau balita yang membutuhkan.
62 ODGJ Terdata, 53 Orang Sudah Menjalani Skrining
Di sisi lain, pelayanan kesehatan jiwa juga menjadi bagian penting dari program kesehatan masyarakat yang dijalankan UPT Puskesmas Sukamulya.
Pemegang Program Kesehatan Jiwa, Rani Nur Azizah, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 62 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tercatat di wilayah pelayanan Puskesmas Sukamulya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 53 orang telah menjalani skrining sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi kesehatan serta kebutuhan penanganan masing-masing pasien.
Dalam pelaksanaannya, Puskesmas melakukan pemantauan dan memberikan pelayanan medis sesuai kondisi pasien.
Apabila ditemukan pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan tidak memungkinkan ditangani di fasilitas Puskesmas, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit jiwa.
“Kemarin ada satu pasien yang harus kami rujuk ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua karena kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut dan tidak bisa ditangani di sini,” jelas Rani.
Untuk mendukung proses pemulihan, pasien ODGJ juga memperoleh pengobatan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kebutuhan terapi medis.
Dalam wawancara tersebut, Rani turut menyebutkan salah satu jenis obat yang digunakan, yakni clozapine.
Kolaborasi Jadi Kunci Peningkatan Kesehatan Masyarakat
Berbagai persoalan kesehatan tersebut membutuhkan penanganan berkelanjutan dan tidak dapat hanya mengandalkan peran Puskesmas.
Karena itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, pemerintah desa, keluarga pasien, serta masyarakat menjadi faktor penting dalam memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting maupun pelayanan kesehatan jiwa.
Melalui penguatan Posyandu, pemantauan pertumbuhan balita, dukungan pemenuhan gizi, skrining kesehatan jiwa, hingga rujukan medis sesuai kebutuhan, UPT Puskesmas Sukamulya berupaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih optimal bagi masyarakat Kecamatan Sukaresmi.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya membantu menekan persoalan stunting, tetapi juga memastikan masyarakat dengan gangguan kesehatan jiwa memperoleh perhatian, pendampingan, dan akses pengobatan yang layak.
Dengan sinergi lintas sektor yang semakin kuat, peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Sukaresmi diharapkan dapat diwujudkan secara berkelanjutan. (Asan)
















