Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaRagam Daerah

Batik Dahon Asal Pangandaran Tembus Pasar Internasional, Begini Keasliannya

75
×

Batik Dahon Asal Pangandaran Tembus Pasar Internasional, Begini Keasliannya

Sebarkan artikel ini
Batik Dahon berupa Sepatu tembus pasar Internasional, Kamis(20/11/2025). (Foto:Krist)

SNU//Pangandaran –
Batik khas Pangandaran kembali mencuri perhatian dunia. Produk Batik Dahon karya pengrajin lokal berhasil menembus pasar internasional, termasuk Belanda, Thailand, dan Vietnam yang beberapa kali memesan produk fesyennya.

Elin Herlina (51), perajin sekaligus pemilik Batik Dahon asal Kampung Balengbeng, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, menuturkan bahwa dirinya sempat mengalami masa sulit selama setahun karena produk batiknya tidak bisa dijual.

Example 300x600

“Waktu itu batik yang kami buat gagal. Warnanya tidak sesuai, mau merah jadi coklat, mau hijau malah kuning. Jadi hasilnya tidak bisa dijual,” katanya.

Elin mulai menekuni usaha batik setelah mengikuti pameran batik di Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Dari pengalaman itu, ia melihat peluang dan mulai mengembangkan Batik Dahon pada 2018. Karyanya dipamerkan pada acara-agara agustusan dan mendapat perhatian dari kalangan menengah ke atas.

“Usaha Batik Dahon ini terus berkembang dengan motif yang tidak akan sama satu sama lain. Karena ramah lingkungan, kami dituntut terus kreatif dan berinovasi. Persaingan usahanya pun masih rendah,” ujarnya.

Setelah riset mandiri, Elin menemukan bahan baku utama dari Pohon Dahon, yang kemudian melahirkan produk Ecoprint Batik Dahon.

“Pewarna batiknya kami ambil dari bahan alami, yaitu tapas buah dahon dan buah dahon yang juga dikenal sebagai buah nipah,” jelasnya.

Buah dahon memiliki rasa mirip kolang-kaling, manis, segar, dan bertekstur kenyal. Buah ini juga bermanfaat untuk kesehatan, seperti meningkatkan imun, menunjang kesehatan pencernaan dan paru-paru, serta memberi energi.

“Buah Dahon juga mengandung antioksidan dan vitamin A yang baik untuk mata,” tambah Elin.

Sementara itu, tapas dahon digunakan sebagai pewarna alami yang dapat menghasilkan ragam warna unik dan unggul. Prosesnya membutuhkan kain berkualitas seperti katun primisima, sutra, ATBM kulit, dan katun bambu.

Didukung Pelatihan UMKM

Elin mengungkapkan bahwa regulasi pemerintah juga mendukung pengrajin untuk naik kelas melalui berbagai pelatihan UMKM yang rutin digelar. “Kami selalu mengikuti pelatihan agar penjualan terus berkembang,” katanya.

Batik Dahon dipasarkan dengan harga bervariasi:

Rp 400 ribu untuk batik berbahan katun primisima Rp 500 ribu untuk batik berbahan sutra

Dari penjualan tersebut, Elin mampu meraup pendapatan rata-rata Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per bulan. (Krist)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600