Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInformatikaLingkungan HidupRagam DaerahTeknologi

Kolam Retensi Pasirkaliki Dikeruk 2 Meter, Cimahi Bergerak Cegah Banjir Mahar Martanegara dan Cigugur Tengah

530
×

Kolam Retensi Pasirkaliki Dikeruk 2 Meter, Cimahi Bergerak Cegah Banjir Mahar Martanegara dan Cigugur Tengah

Sebarkan artikel ini
Kepala DPKP Kota Cimahi, Ami Pringgo, membenarkan langkah percepatan tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (19/5/2026).

DPKP Kota Cimahi gandeng Pemkot Bandung percepat normalisasi kolam retensi dan bongkar bangunan liar di bantaran sungai demi menekan banjir tahunan.

Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Pemerintah Kota Cimahi bergerak cepat menangani persoalan banjir yang kerap melanda kawasan Jalan Mahar Martanegara, Cigugur Tengah, hingga wilayah sekitarnya. 

Example 300x600

Salah satu langkah strategis yang kini dilakukan adalah pengerukan kolam retensi di kawasan Pasirkaliki, Kota Bandung, guna meningkatkan kapasitas tampung air saat hujan deras.

Upaya tersebut dilakukan oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi melalui kolaborasi lintas daerah bersama Dinas Bina Marga Kota Bandung. Fokus utama pengerjaan saat ini yakni pendalaman kolam retensi yang selama bertahun-tahun dinilai mengalami sedimentasi dan pendangkalan.

Kepala DPKP Kota Cimahi, Ami Pringgo, membenarkan langkah percepatan tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (19/5/2026).

Survey DPKP Cimahi dan Kota Bandung, terkait rencana pengerukan kolam retensi pasirkaliki dengan pemkot bandung

Menurut Ami, pengerukan kolam retensi Pasirkaliki menjadi bagian penting dalam skema pengendalian banjir kawasan utara Cimahi yang selama ini terdampak limpasan air cukup besar.

“Kolam retensi di Pasirkaliki saat ini terindikasi mengalami pendangkalan karena sudah cukup lama tidak dilakukan pengerukan. Maka sekarang dilakukan pendalaman kurang lebih sekitar 2 meter agar volume tampung air meningkat,” ujar Ami.

Ia menjelaskan, dengan bertambahnya kapasitas tampungan, debit air limpasan yang selama ini mengalir deras menuju Jalan Mahar Martanegara dapat ditekan secara signifikan.

“Harapannya, air hujan tidak langsung mengalir seluruhnya ke wilayah Cimahi, khususnya Mahar Martanegara yang selama ini jadi titik rawan banjir,” katanya.

Bongkar Jembatan Rendah dan Bangunan Liar

Tak hanya fokus pada kolam retensi, Pemkot Cimahi juga melakukan penanganan di sepanjang aliran Sungai Ciputri.

Dari hasil evaluasi lapangan, ditemukan sejumlah jembatan dengan elevasi terlalu rendah yang justru menghambat laju aliran air.

Akibatnya, saat debit meningkat, air mudah meluap ke permukiman warga.

“Ada beberapa titik jembatan yang terlalu rendah dan menghalangi aliran air. Sebagian sudah kami bongkar agar aliran lebih lancar,” jelas Ami.

Selain itu, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Satpol PP terkait pembongkaran bangunan liar (bangli) di bantaran sungai yang dianggap menjadi salah satu penyebab utama penyempitan saluran.

Sebelumnya, sejumlah bangunan sudah ditertibkan. Namun berdasarkan pendataan terbaru, masih ada sekitar 14 bangunan liar yang akan masuk tahap penertiban berikutnya.

“Bangli menjadi faktor signifikan penyebab banjir karena mempersempit jalur sungai. Ini masih terus kami proses bersama Satpol PP,” katanya.

Proyek Permanen Masih Tunggu Restu Kementerian PUPR

Meski pengerukan sudah berjalan, pembangunan permanen kolam retensi Pasirkaliki hingga kini belum sepenuhnya rampung.

Ami menjelaskan, lahan kolam retensi merupakan kontribusi dari Pemkot Cimahi, sementara proses penggalian sebelumnya dikerjakan oleh Pemerintah Kota Bandung.

Adapun pembangunan struktur permanen kini tengah diajukan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (PSDA).

“Bangunan permanennya sedang kami dorong ke pusat. Kami berharap minimal tahun 2027 sudah bisa terealisasi,” ujarnya.

DPKP juga menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memperkuat usulan anggaran pembangunan tersebut.

Jika proyek permanen terealisasi, kapasitas kolam retensi diperkirakan cukup besar dengan luasan sekitar 70 x 70 meter dan kedalaman sekitar 2 meter.

Volume tersebut dinilai mampu menampung debit air dalam jumlah signifikan sebelum dialirkan ke hilir.

Pembongkaran jembatan di sungai cilember yg menghalangi jalan air

Solusi Banjir Harus Menyeluruh hingga DAS Citarum

Meski optimistis pengerukan kolam retensi dapat mengurangi genangan, Ami menegaskan penyelesaian banjir di Cimahi tidak cukup hanya dengan satu proyek.

Menurutnya, dibutuhkan penanganan komprehensif dari hulu ke hilir, termasuk normalisasi saluran dari kawasan Cigugur, Melong, Margaasih hingga bermuara ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

“Penanganan banjir ini harus integral. Dimensi saluran yang ada sekarang masih kurang. Ke depan harus diperbesar, ada beberapa segmen yang juga perlu diluruskan sesuai kajian kementerian,” tegasnya.

Kajian teknis tersebut sebelumnya telah dilakukan oleh pihak kementerian bersama BBWS. Jika seluruh rekomendasi terealisasi, pemerintah optimistis persoalan banjir tahunan di Cimahi, termasuk kawasan Cilember dan Mahar Martanegara, dapat ditekan secara bertahap.

Dengan sinergi lintas daerah dan dukungan pemerintah pusat, warga kini berharap upaya normalisasi dan pembangunan kolam retensi Pasirkaliki tak lagi berhenti pada tahap pengerukan, tetapi berlanjut menjadi solusi permanen untuk banjir yang selama ini meresahkan. (Bagdja)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600