Jawa Tengah, Surakarta l secondnewsupdate.co.id — Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga kondisi fisik yang prima.
Hal inilah yang menjadi perhatian Babinsa Joyotakan Koramil 03/Serengan Kodim 0735/Surakarta dengan memberikan pembinaan fisik dan kebugaran kepada para Kader Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA).
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, mulai pukul 08.00 WIB. Pembinaan dipimpin langsung Babinsa Joyotakan, Serma Rumbawa, dengan melibatkan para kader DESTANA di wilayah Kelurahan Joyotakan.
Pelatihan dirancang untuk membangun kesiapan para kader agar mampu menjalankan peran secara optimal ketika menghadapi situasi darurat maupun potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi di lingkungan masyarakat.
Serma Rumbawa menjelaskan, kesiapan personel di lapangan merupakan salah satu faktor penting dalam penanganan bencana.
Karena itu, kader tidak cukup hanya memahami langkah-langkah mitigasi, tetapi juga harus memiliki kebugaran, kedisiplinan, serta ketahanan fisik yang memadai.
“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan, ketahanan fisik, kedisiplinan, serta kemampuan para kader dalam menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya bencana di wilayah,” ujar Rumbawa.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan diisi dengan pemanasan, olahraga ringan, latihan kebugaran dan sejumlah aktivitas fisik lainnya. Materi diberikan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi serta kemampuan masing-masing peserta.
Menurutnya, latihan fisik tersebut bukan sekadar aktivitas olahraga rutin. Lebih jauh, kegiatan menjadi bagian dari pembinaan kesiapsiagaan masyarakat sehingga para kader memiliki kesiapan mental dan fisik ketika harus bergerak cepat membantu warga dalam kondisi bencana.
Kader DESTANA diharapkan mampu menjadi salah satu unsur terdepan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana.
Mereka juga dituntut mampu melakukan koordinasi secara cepat dengan berbagai unsur terkait ketika terjadi keadaan darurat.
“Harapannya, Kader DESTANA memiliki kondisi fisik yang prima, disiplin dan tanggap dalam melaksanakan tugas kebencanaan,” tegasnya.
Selain itu, sinergitas antara Kader DESTANA dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, pemerintah kelurahan serta unsur terkait lainnya juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang responsif.
Kolaborasi lintas unsur tersebut diharapkan dapat mempercepat proses penanganan apabila terjadi bencana, sekaligus meminimalkan risiko terhadap keselamatan masyarakat.
Pembinaan seperti ini juga menjadi langkah preventif untuk memperkuat kapasitas masyarakat di tingkat kelurahan. Dengan kader yang terlatih dan memiliki kesiapan fisik, respons awal terhadap bencana diharapkan dapat dilakukan secara lebih terorganisir sebelum penanganan lebih lanjut dari instansi terkait.
Kegiatan Babinsa Joyotakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa upaya menjaga keselamatan masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui kader-kader kebencanaan yang tangguh, disiplin dan siap bergerak. (Agus Kemplu)
















