Tangerang, Banten/ secondnewsupdate.co.id – Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, hingga Jumat (3/7/2026) masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Memasuki hari keempat, kobaran api di dalam timbunan sampah masih menyisakan ratusan titik panas yang membuat proses pemadaman berlangsung sangat sulit.
Sebagai langkah percepatan penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan dua unit helikopter untuk melakukan operasi water bombing atau pengeboman air dari udara.
Upaya tersebut dilakukan guna menjangkau titik-titik api yang tidak dapat diakses oleh petugas di darat.
Tidak hanya mengandalkan jalur udara, pemerintah juga menyiapkan skenario Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan apabila kondisi atmosfer memungkinkan terbentuknya awan di sekitar wilayah TPA Jatiwaringin.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat proses pendinginan area kebakaran yang hingga kini masih mengeluarkan asap tebal.
Di lapangan, sedikitnya 50 personel pemadam kebakaran, sekitar 120 anggota kepolisian, aparat gabungan, serta 30 personel Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan terus bekerja tanpa henti untuk mengendalikan kobaran api.
Tim Manggala Agni memiliki tugas khusus melakukan injeksi air ke bagian dalam timbunan sampah.
Metode tersebut dinilai paling efektif karena sebagian besar titik api berada jauh di bawah permukaan, sehingga sulit dijangkau dengan penyemprotan biasa.
Kondisi angin yang berubah-ubah juga menjadi tantangan tersendiri.
Tiupan angin menyebabkan bara api kembali menyala di sejumlah titik, sehingga petugas harus bekerja ekstra agar api tidak kembali meluas.
Sementara proses pemadaman berlangsung, perhatian masyarakat justru tertuju pada aktivitas dua helikopter BNPB yang hilir mudik menjatuhkan air ke area kebakaran.
Puluhan warga dari berbagai wilayah sekitar berdatangan ke lokasi untuk menyaksikan langsung operasi pemadaman dari udara.
Banyak di antaranya mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.
Salah seorang warga, Siska, mengaku sengaja datang bersama adik dan anak-anaknya karena penasaran melihat helikopter water bombing beroperasi.
Meski demikian, di balik rasa penasaran tersebut, warga juga mengaku khawatir terhadap asap pekat yang telah menyebar hingga ke kawasan permukiman.
Dampak asap kebakaran mulai dirasakan masyarakat sekitar. Pemerintah setempat pun membuka posko pelayanan kesehatan di wilayah Desa Gintung sebagai bentuk antisipasi terhadap gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Sejak dibuka, puluhan warga telah memanfaatkan layanan kesehatan tersebut. Mayoritas merupakan perempuan dan lanjut usia yang mengeluhkan tekanan darah tinggi serta kondisi kesehatan lainnya.
Petugas kesehatan menjelaskan, hingga kini belum ditemukan peningkatan signifikan kasus gangguan saluran pernapasan. Namun, pemantauan kesehatan terhadap masyarakat tetap dilakukan secara intensif selama kebakaran belum berhasil dipadamkan.
Selain menyediakan layanan kesehatan, pemerintah desa juga membagikan masker kepada warga guna mengurangi risiko paparan asap yang masih menyelimuti kawasan sekitar TPA.
Di sisi lain, aparat kepolisian belum melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran.
Seluruh fokus personel saat ini masih diarahkan pada upaya pemadaman agar api segera dapat dikendalikan dan tidak semakin meluas.
Dengan ratusan titik api yang masih aktif di dalam timbunan sampah, proses penanganan diperkirakan masih membutuhkan waktu.
Pemerintah berharap kombinasi pemadaman darat, operasi water bombing, serta kemungkinan pelaksanaan hujan buatan dapat mempercepat penuntasan kebakaran yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. (Dia).
