BudayaEntertainmentGaya hidupRagam Daerah

Domba Garut Bisa Tembus Rp400 Juta, Bupati Syakur Dorong SKDG Jadi Penggerak Ekonomi dan Pelestari Budaya

118
Bupati Kabupaten Garut Abdusy Syakur Amin foto bersama domba Garut -yang bernilai harga tinggi Rp 400 juta

Jawa Barat, Garut l secondnewsupdate.co.id — Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) bukan sekadar ajang adu ketangkasan dan silaturahmi para pecinta domba. 

Di balik tradisi tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang mampu mengangkat nilai jual domba unggulan hingga ratusan juta rupiah.

Hal itu mengemuka dalam Grand Final Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) Liga Garut dan Kontes Ternak Tahun 2026 yang digelar di Pamidangan Lembah Gunung Guntur Anugrah, Jalan Ibrahim Adjie, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Sabtu (12/9/2026).

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menegaskan dukungan Pemerintah Kabupaten Garut terhadap keberlangsungan seni ketangkasan sekaligus pelestarian budaya domba Garut.

Menurut Syakur, domba Garut tidak semestinya hanya dipandang sebagai komoditas penghasil daging. Perawatan, pemeliharaan, hingga pembentukan karakter domba secara baik justru dapat meningkatkan nilai ekonominya.

“Kalau domba dijual hanya dagingnya saja, harganya tidak akan mahal. Tapi kalau domba yang dipelihara dengan baik, dengan kasih sayang, dengan cinta, insyaallah harganya akan jadi bagus. Ini akan membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Garut,” ujar Syakur.

Ia menilai SKDG yang kini telah berkembang dengan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat juga menjadi ruang silaturahmi bagi masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap domba Garut.

Selain menjadi bagian dari kebudayaan lokal, kegiatan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata dan penggerak ekonomi daerah.

“Ini juga ajang silaturahmi. Tadi saya dengar kegiatannya berskala Provinsi Jawa Barat, jadi silaturahmi antara orang-orang yang memiliki kecintaan yang sama terhadap domba,” katanya.

Pemkab Garut Siapkan Pengembangan Lebih Luas

Ke depan, Pemkab Garut berencana mendorong agar kegiatan yang berkaitan dengan budaya domba Garut semakin dikenal masyarakat luas.

Salah satu langkah yang akan ditempuh yakni menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut.

Syakur berharap kekhasan budaya domba Garut yang menjadi salah satu identitas Kabupaten Garut dan Jawa Barat dapat dikemas lebih baik sehingga tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Ke depan kita akan dorong agar kegiatan seperti ini semakin dikenal luas, termasuk dengan menggandeng PHRI dan Disparbud,” ujarnya.

461 Domba Ikuti Liga Garut

Sementara itu, Sekjen Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Garut, Asep Rahwanto, menjelaskan Grand Final tersebut merupakan rangkaian terakhir dari sembilan putaran Liga Garut yang sebelumnya berlangsung di delapan pamidangan berbeda.

Untuk gelaran SKDG tahun 2026, tercatat sebanyak 461 ekor domba ambil bagian. Jumlah tersebut terbagi dalam Kelas A sebanyak 143 ekor, Kelas B sebanyak 143 ekor, dan Kelas C sebanyak 175 ekor.

Pesertanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Garut, tetapi juga sejumlah daerah lain di Jawa Barat, antara lain Sumedang, Pangandaran, dan Bandung.

“Untuk kontes ternak ini diselenggarakan lokal, jadi peternak yang hanya di Kabupaten Garut saja yang ikut. Tetapi untuk SKDG ini terbuka, jadi ada yang dari Sumedang, Pangandaran, Bandung,” jelas Asep.

Kontes Ternak Diikuti 170 Ekor

Selain seni ketangkasan, Grand Final juga diramaikan Kontes Ternak Lokal yang khusus diikuti peternak dari Kabupaten Garut.

Total terdapat 170 ekor ternak yang mengikuti kontes tersebut dengan lima kategori, yakni Raja Petet Non Poel sebanyak 59 ekor, Raja Petet Satu Pasang Poel 55 ekor, Raja Calon Pejantan atau Raja Kasep Dua Pasang Poel 33 ekor, Raja Pedaging Dua Pasang Poel 8 ekor, serta Ratu Bibit Dua Pasang Poel sebanyak 15 ekor.

Rangkaian kontes ternak berlangsung sepanjang Sabtu, sedangkan seni ketangkasan domba dilanjutkan hingga Minggu untuk kategori Kelas A dan B.

Asep mengapresiasi dukungan Bupati Garut terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Pasalnya, kontes ternak sebelumnya sempat direncanakan tidak dilaksanakan akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Ia berharap kegiatan tahunan tersebut tetap dapat dipertahankan karena memiliki dampak langsung terhadap perkembangan peternakan dan nilai ekonomi domba Garut.

Domba Kasep Bisa Bernilai Ratusan Juta

Menurut Asep, keberadaan event seperti SKDG dan kontes ternak menjadi salah satu faktor yang ikut mendongkrak harga domba unggulan.

Bahkan, domba kategori Raja Kasep disebut mampu mencapai harga Rp250 juta hingga Rp300 juta. 

Untuk domba yang memiliki kualitas ketangkasan dan penampilan sangat baik, nilainya bahkan dapat menembus Rp400 juta.

“Bahkan ada domba Raja Kasep itu sampai menembus harga Rp250 juta, Rp300 juta. Apalagi kalau sudah tangkas, ada yang memang tangkasnya bagus, kemudian dombanya betul-betul bagus, kasep itu sampai terjual Rp400 juta,” ungkapnya.

Asep menilai tingginya nilai transaksi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian domba Garut melalui kegiatan seni ketangkasan bukan hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga mempunyai efek ekonomi yang nyata bagi peternak.

“Makanya dengan adanya event seperti ini, harga domba itu betul-betul naik. Kalau sebaliknya, kalau tidak ada event, harga domba tidak akan naik,” tandasnya. (Agung)

Exit mobile version