BudayaEntertainmentGaya hidupLingkungan HidupRagam DaerahWisata

Wayan Koster Tegaskan Bali Tak Boleh Rusak Alam: Energi Bersih, Pengelolaan Sampah hingga Pariwisata Hijau Jadi Kunci Masa Depan Pulau Dewata

514
Gubernur Bali Wayan Koster kembali menegaskan arah besar pembangunan Pulau Dewata yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan lingkungan.

Bali, Badung l secondnewsupdate.co.id – Gubernur Bali Wayan Koster kembali menegaskan arah besar pembangunan Pulau Dewata yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan lingkungan.

Pesan kuat itu disampaikan Koster saat menghadiri puncak penganugerahan Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2026 di The Westin Resort Nusa Dua, Kabupaten Badung, Minggu (13/9/2026).

Di hadapan jajaran pemerintah pusat, pelaku industri nasional, serta para inovator lingkungan, Koster menegaskan bahwa masa depan Bali harus dibangun dengan prinsip harmoni antara manusia dan alam. 

Konsep tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga Bali agar tetap lestari dan mampu diwariskan kepada generasi mendatang.

Acara bergengsi itu turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq, serta Direktur Utama PT SUCOFINDO Sandry Pasambuna.

Menurut Koster, penghargaan ENSIA menjadi momentum penting untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi di bidang lingkungan dan sosial yang mampu menjawab tantangan pembangunan masa depan.

“Pembangunan tidak boleh mengorbankan alam. Kita hidup berdampingan dengan lingkungan dan seluruh makhluk hidup. Filosofinya adalah urip yang nguripi, hidup yang memberi kehidupan bagi yang lain,” ujar Koster.

Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Visi Besar Menjaga Pulau Dewata

Gubernur Bali menegaskan, komitmen tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni pembangunan yang berakar pada nilai-nilai budaya, keseimbangan alam, dan kesejahteraan masyarakat.

Konsep ini kemudian diperkuat melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai pijakan utama pembangunan daerah.

Koster menilai, pembangunan modern harus mampu menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik tanpa merusak ekosistem. 

Kehidupan manusia, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dari kelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan.

“Bali harus tumbuh, tetapi alam tetap terjaga. Ini bukan hanya filosofi leluhur, melainkan sudah menjadi konsep pembangunan yang terukur dan berkelanjutan,” tegasnya.

Bali Gaspol Energi Bersih, Targetkan Pasokan PLTS 1.000 Megawatt

Komitmen Bali terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui percepatan transisi energi bersih. Salah satu program strategis yang terus didorong adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sejak 2019, Pemerintah Provinsi Bali telah mengembangkan berbagai kebijakan untuk memperluas penggunaan energi terbarukan. 

Program ini bahkan mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat.

Bali ditargetkan memperoleh pasokan listrik dari PLTS hingga 1.000 megawatt (MW), yang merupakan bagian dari program nasional pengembangan energi surya berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).

Langkah ini bukan hanya bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tetapi juga memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang ramah lingkungan.

Pariwisata hijau dinilai akan menjadi kekuatan baru Bali di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu perubahan iklim dan keberlanjutan.

Pemilahan Sampah Denpasar-Badung Capai 90 Persen

Selain energi bersih, Koster mengungkapkan keberhasilan Bali dalam pengelolaan sampah, khususnya di kawasan Denpasar dan Badung.

Saat ini, tingkat pemilahan sampah di dua wilayah tersebut telah mencapai 80 hingga 90 persen, sehingga berdampak langsung terhadap berkurangnya beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.

Keberhasilan ini dinilai sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah berbasis sumber.

Model tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa perubahan perilaku masyarakat dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas lingkungan.

Pemerintah Dorong Industri Lebih Bertanggung Jawab

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kebijakan pengelolaan lingkungan, termasuk mendorong tanggung jawab pelaku usaha terhadap limbah yang dihasilkan.

Perhatian khusus juga diberikan pada penggunaan kemasan plastik, terutama pada produk makanan dan minuman yang dinilai menjadi salah satu penyumbang besar timbulan sampah nasional.

Karena itu, inovasi lingkungan tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dilakukan bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

ENSIA 2026 Catat Rekor, 954 Inovasi dari 253 Perusahaan

Direktur Utama PT SUCOFINDO, Sandry Pasambuna, menjelaskan bahwa ENSIA merupakan ajang penghargaan yang diselenggarakan bersama Kementerian Lingkungan Hidup untuk memberikan apresiasi kepada perusahaan dan tokoh inspiratif yang menghadirkan inovasi sosial serta lingkungan.

Tahun ini, ENSIA 2026 mencatat antusiasme tinggi dengan menerima 954 makalah inovasi dari 253 perusahaan, serta menyeleksi 48 local hero dari berbagai daerah di Indonesia.

Penghargaan Best of The Best Participant ENSIA 2026 diraih oleh PT Smelting. Sementara empat perusahaan terbaik lainnya adalah PT PLN Nusantara Power UP Rembang, PT TIMAH Tbk Divisi Pengolahan dan Peleburan Kundur, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu, dan PT ANTAM Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan dan membangun inovasi sosial berkelanjutan.

ENSIA 2026 menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian alam bukan dua hal yang bertentangan. 

Bagi Bali, menjaga keseimbangan alam bukan sekadar kebijakan, melainkan jalan besar untuk memastikan Pulau Dewata tetap menjadi ruang kehidupan yang harmonis, hijau, dan berkelanjutan bagi generasi masa depan. (Mahesa)

Exit mobile version