Kab Bandung// secondnewsupdate.co.id – Ancaman El Nino 2026 bukan lagi sekadar bayang-bayang. Di tengah potensi musim kering panjang yang bisa melumpuhkan sektor pertanian, Bupati Bandung Dadang Supriatna atau Kang DS memilih bergerak cepat turun langsung ke lapangan demi memastikan petani tidak menjadi korban pertama dari krisis iklim.
Langkah sigap itu ditunjukkan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) di wilayah rawan kekeringan, tepatnya di Kecamatan Kutawaringin, Jumat (18/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi antisipatif Pemkab Bandung dalam menghadapi dampak El Nino yang diprediksi terjadi tahun ini.
Fenomena El Nino sendiri dikenal sebagai pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak langsung pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dampaknya tidak main-main—mulai dari kekeringan berkepanjangan, terganggunya siklus tanam, hingga ancaman gagal panen yang bisa menghantam daerah agraris seperti Kabupaten Bandung.

Berdasarkan analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional, potensi El Nino 2026 diperkirakan muncul dengan intensitas yang patut diwaspadai, terutama pada periode April hingga Oktober. Artinya, waktu untuk bersiap semakin sempit—dan respons cepat menjadi kunci.
Dalam kegiatan monev tersebut, Kang DS didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ina Kania Dewi serta Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian RI Hermanto.
Kehadiran pemerintah pusat mempertegas bahwa ancaman kekeringan bukan sekadar isu lokal, melainkan tantangan nasional.
Turut hadir pula sejumlah pejabat dari Kementerian terkait, termasuk jajaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan BBWS Citarum.
Sinergi lintas sektor ini difokuskan pada penguatan sistem irigasi, pengelolaan sumber daya air, serta kesiapan lahan pertanian menghadapi tekanan musim kering.
Di lapangan, berbagai potensi kerawanan langsung diidentifikasi mulai dari keterbatasan pasokan air, kondisi jaringan irigasi, hingga kesiapan petani dalam menghadapi perubahan pola tanam.
Temuan ini menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi yang lebih tepat sasaran.
Tak berhenti di situ, upaya tersebut dilanjutkan dengan rapat koordinasi di Rumah Dinas Bupati Bandung.
Forum ini membahas strategi konkret, seperti optimalisasi jaringan irigasi, pemetaan wilayah rawan kekeringan, hingga penguatan kolaborasi antarinstansi.
Gerak cepat Kang DS menjadi sinyal kuat bahwa Pemkab Bandung tidak tinggal diam.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata, langkah ini bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga fondasi menuju sistem pertanian yang tangguh dan adaptif.
Satu pesan pun ditegaskan: di bawah ancaman El Nino 2026, Kabupaten Bandung memilih melawan—demi menjaga ketahanan pangan dan melindungi masa depan para petani. (Apih)
















