InformatikaPropagandaRagam DaerahSosial

Gebrakan Perdana Yayasan Walet Emas Bandung Raya! Santuni 110 Anak Yatim, Difabel hingga Warga Prasejahtera, Donatur Diajak Bergandengan Tangan Tebar Kepedulian

3518
Kepedulian sosial bukan sekadar tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan seberapa tulus tangan diulurkan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Semangat itulah yang menjadi pijakan Yayasan Walet Emas Bandung Raya saat mengawali kiprah sosial perdananya dengan menyalurkan santunan kepada 110 penerima manfaat dari keluarga besar masyarakat asal Kabupaten Kebumen yang berdomisili di wilayah Bandung Raya.

Cimahi, Jabar l secondnewsupdate.co.id – Kepedulian sosial bukan sekadar tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan seberapa tulus tangan diulurkan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.

Semangat itulah yang menjadi pijakan Yayasan Walet Emas Bandung Raya saat mengawali kiprah sosial perdananya dengan menyalurkan santunan kepada 110 penerima manfaat dari keluarga besar masyarakat asal Kabupaten Kebumen yang berdomisili di wilayah Bandung Raya.

Dalam kegiatan bakti sosial perdana yang berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan tersebut, Yayasan Walet Emas Bandung Raya menyalurkan bantuan berupa beras 5 Kg serta uang tunai sebesar Rp100.000 kepada masing-masing anak yatim piatu. 

Kegiatan ini menjadi langkah awal yayasan dalam membangun gerakan kepedulian sosial yang diharapkan terus berkembang, berkesinambungan, dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Kegiatan berlangsung di perusahaan milik Pembina Yayasan Walet Emas Bandung Raya, PT Ebod Jaya, Makhfud Solaiman, yang akrab disapa H. Ebod, berlokasi di Jalan Nanjung Nomor 105, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Minggu (1/11/2026).

Sejumlah pengurus yayasan, para ketua paguyuban masyarakat asal Kebumen se-Bandung Raya, donatur, undangan, serta anak-anak penerima santunan turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam struktur kepengurusan yayasan, sejumlah tokoh dipercaya menjadi pembina dan penasihat, di antaranya Wali Kota Cimahi Ngatiyana, H. Machfud Soelaiman, serta Sakir.

H. Ebod: Transparansi dan Akuntabilitas Menjadi Kunci Kepercayaan Donatur

Pembina Yayasan Walet Emas Bandung Raya, H. Makhfud Solaiman atau H. Ebod, dalam sambutannya mengawali dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT karena seluruh keluarga besar yayasan dapat berkumpul dan melaksanakan kegiatan sosial perdana tersebut.

Ia menegaskan bahwa yayasan merupakan organisasi sosial non-profit yang seluruh aktivitasnya harus dilandasi niat tulus untuk membantu sesama, bukan untuk mencari keuntungan pribadi maupun mengharapkan honorarium.

Menurutnya, seluruh pengurus harus memiliki komitmen kuat dalam menjalankan roda organisasi secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Ebod menilai, kepercayaan donatur merupakan modal penting bagi keberlangsungan yayasan.

“Karena itu, setiap dana yang diterima harus dipertanggungjawabkan secara terbuka, mulai dari pencatatan identitas donatur, jumlah bantuan yang masuk, program yang dilaksanakan, hingga siapa saja penerima manfaatnya,” tegas Ebod.

Ia juga menyarankan agar yayasan secara berkala menyampaikan laporan kepada para donatur sehingga mereka mengetahui secara jelas bahwa amanah dan sebagian harta yang dititipkan benar-benar disalurkan kepada pihak yang berhak.

“Yayasan ini organisasi sosial, organisasi non-profit. Jadi, semuanya harus diniatkan untuk kepentingan sosial, jangan mengharapkan honor. Saya berharap seluruh pengurus menjalankan organisasi secara profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan begitu, para donatur akan semakin yakin untuk mempercayakan sebagian hartanya kepada yayasan,” ungkap Ebod.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa prioritas utama penerima manfaat pada tahap awal hendaknya diberikan kepada keluarga besar masyarakat asal Kebumen yang berada di Bandung Raya, khususnya anak yatim dan warga yang membutuhkan.

Menurutnya, apabila masyarakat asal Kebumen yang memenuhi kriteria sudah terdata dan mendapatkan perhatian secara proporsional, barulah program sosial dapat diperluas kepada masyarakat lainnya.

Ebod juga mendorong pengurus agar lebih progresif dalam membangun jaringan pendanaan.

” Tidak hanya mengandalkan kontribusi anggota paguyuban, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan, lembaga, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan sosial. Terlebih, Yayasan Walet Emas Bandung Raya telah memiliki legalitas dan tercatat di lingkungan Kesbangpol Kota Cimahi,” jelas Ebod.

Kondisi tersebut diharapkan menjadi modal untuk membangun kepercayaan serta membuka peluang kolaborasi, termasuk melalui program dana sosial dan hibah sesuai ketentuan yang berlaku.

Sakir Ajak Seluruh Paguyuban Bersatu, Bangun Database Warga Kebumen

Sementara itu, Pembina sekaligus pendiri Yayasan Walet Emas Bandung Raya, Sakir, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan sosial perdana tersebut.

Ia mengajak seluruh ketua paguyuban masyarakat asal Kebumen yang berada di wilayah Bandung Raya agar bersama-sama memperkuat organisasi dengan mendaftarkan anggota masing-masing untuk memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) Yayasan Walet Emas.

Menurut Sakir, pendataan melalui KTA sangat penting untuk mempermudah yayasan dalam mengetahui jumlah anggota, memantau kondisi warga, sekaligus mempercepat penyaluran bantuan apabila sewaktu-waktu terdapat anggota masyarakat yang mengalami musibah atau membutuhkan pertolongan.

“Intinya, saya mengajak seluruh ketua paguyuban daerah asal Kebumen yang ada di Bandung Raya untuk mendaftarkan anggotanya dan membuat KTA yayasan. Tujuannya agar pendataan lebih mudah. Jika suatu saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau ada warga yang membutuhkan bantuan, kita bisa lebih cepat mengetahui dan memantaunya,” jelas Sakir.

Ia juga mengungkapkan bahwa cakupan gerakan Yayasan Walet Emas diharapkan semakin luas, meliputi Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, hingga Kabupaten Sumedang.

Dengan demikian, warga asal Kebumen yang merantau dan berdomisili di berbagai wilayah tersebut dapat terhimpun dalam satu wadah kepedulian sosial.

Sakir berharap, ke depan program yayasan tidak hanya terbatas pada pemberian sembako atau santunan. 

“Apabila kemampuan keuangan organisasi semakin kuat, bantuan juga dapat dikembangkan untuk kebutuhan lain, termasuk membantu keluarga warga Kebumen yang mengalami musibah kematian dan membutuhkan dukungan biaya pemakaman,” papar Sakir.

Menurutnya, semangat kebersamaan harus menjadi kekuatan utama agar yayasan benar-benar hadir sebagai tempat masyarakat saling membantu, terutama ketika menghadapi situasi sulit.

H. Hidayat: Walet Emas Lahir dari Semangat Paguyuban dan Kerinduan terhadap Kampung Halaman

Ketua Yayasan Walet Emas Bandung Raya, H. Hidayat, menjelaskan bahwa berdirinya yayasan tersebut tidak terlepas dari perjalanan panjang kebersamaan masyarakat asal Kabupaten Kebumen yang merantau ke wilayah Bandung Raya.

“Cikal bakal organisasi ini berawal dari paguyuban-paguyuban masyarakat Kebumen yang memiliki keinginan untuk membangun wadah sosial dengan legalitas resmi agar kegiatan kemasyarakatan dapat berjalan lebih terstruktur dan memiliki jangkauan yang lebih luas,” terang Hidayat.

Gagasan pembentukan Yayasan Walet Emas Bandung Raya tercetus pada 26 Juni 2026.

“Setelah melalui proses pengurusan administrasi, yayasan akhirnya memperoleh legalitas dari Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu, yayasan juga telah memperoleh izin atau pencatatan dari Kesbangpol Kota Cimahi. Bahkan, dalam kegiatan syukuran atas legalitas organisasi yang berlangsung sebelumnya, Wali Kota Cimahi Ngatiyana turut hadir dan menjadi bagian dari jajaran pembina yayasan,” papar Hidayat.

Hidayat menjelaskan, nama Walet Emas memiliki filosofi tersendiri, yakni singkatan dari Wani, Ulet, Eling Maring Asale.

Dalam bahasa Indonesia, filosofi tersebut mengandung makna keberanian, keuletan, kerja keras, serta tidak pernah melupakan daerah asal.

“Yayasan Walet Emas ini merupakan gabungan dari beberapa paguyuban dan warga Kebumen yang merantau. Filosofinya adalah Wani, Ulet, Eling Maring Asale. Artinya, kita harus berani, ulet, bekerja keras, tetapi jangan pernah melupakan asal-usul dan kampung halaman,” tutur Hidayat.

Ia menegaskan, program sosial yang dijalankan yayasan untuk sementara memang memprioritaskan masyarakat asal Kabupaten Kebumen yang berada di perantauan, khususnya mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan.

Berdasarkan hasil musyawarah pengurus, terdapat enam kelompok yang menjadi prioritas penerima manfaat, yakni anak yatim, anak piatu, anak yatim piatu, lansia, orang yang mengalami sakit menahun, serta masyarakat yang benar-benar tidak mampu secara ekonomi.

“Apabila kondisi keuangan yayasan nantinya semakin kuat dan kebutuhan masyarakat asal Kebumen di Bandung Raya telah terakomodasi, pihaknya membuka peluang untuk memperluas kontribusi sosial kepada masyarakat sekitar,” harapnya 

Ambulans Menjadi Salah Satu Program Prioritas ke Depan

Dalam kesempatan tersebut, Hidayat juga meluruskan informasi mengenai kabar bahwa Yayasan Walet Emas Bandung Raya telah memiliki kendaraan ambulans.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini yayasan belum memiliki ambulans. 

“Namun, pengadaan kendaraan ambulans memang sudah masuk dalam salah satu program yang direncanakan untuk direalisasikan apabila kemampuan pendanaan memungkinkan. Program tersebut dinilai penting karena selama ini terdapat warga asal Kebumen yang meninggal dunia di perantauan dan ingin dimakamkan di kampung halaman,” tutur Hidayat.

Dalam kondisi demikian, keluarga maupun paguyuban harus menyewa kendaraan ambulans dari pihak lain.

“Ambulans memang menjadi salah satu program kami. Saat ini kami belum memilikinya karena masih membutuhkan anggaran. Selama ini, ketika ada warga Kebumen yang meninggal dunia dan ingin dimakamkan di kampung halaman, kami masih harus menyewa ambulans. Karena itu, ke depan kami berharap bisa memiliki ambulans sendiri untuk membantu warga perantauan, khususnya masyarakat Kebumen, dan masyarakat sekitar yang benar-benar membutuhkan,” ungkapnya.

Rencana tersebut menjadi gambaran bahwa visi Yayasan Walet Emas tidak berhenti pada santunan sesaat, tetapi diarahkan untuk membangun pelayanan sosial yang lebih nyata dan berkelanjutan.

110 Paket Sembako Disalurkan, Ketua Yayasan Pastikan Amanah Donatur Tersampaikan

Dalam laporan pelaksanaan kegiatan, Ketua Yayasan Walet Emas Bandung Raya, Hidayat, menyampaikan bahwa sebanyak 110 paket sembako disiapkan untuk disalurkan kepada penerima manfaat.

Selain paket sembako, setiap penerima juga memperoleh uang pengganti transportasi sebesar Rp100.000.

Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para donatur yang telah menitipkan sebagian hartanya melalui yayasan untuk disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerima.

Menurutnya, bantuan tersebut merupakan amanah yang harus segera dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Hidayat juga menjelaskan bahwa dalam proses pengadaan paket sembako terdapat penyesuaian anggaran. 

Awalnya, pengurus memperkirakan paket sembako dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp80.000 per paket.

“Namun, karena stok beras di Bulog habis, pengurus harus mencari alternatif pengadaan sehingga harga paket meningkat menjadi Rp104.000.

Dalam kondisi tersebut, bendahara memberikan subsidi sebesar Rp4.000 untuk setiap paket sehingga nilai paket yang dibebankan tetap Rp100.000,” jelas Hidayat.

Ia juga menyampaikan bahwa hingga kegiatan berlangsung, terdapat 23 paguyuban yang telah tergabung dalam Yayasan Walet Emas Bandung Raya.

Untuk memperkuat program ke depan, seluruh ketua paguyuban diminta segera melengkapi data calon penerima manfaat, meliputi nama, alamat, tempat dan tanggal lahir, serta asal kecamatan dan desa di Kabupaten Kebumen.

“Pendataan tersebut diperlukan agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Hidayat menegaskan bahwa kegiatan bakti sosial ini diharapkan menjadi agenda rutin yayasan. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan ketersediaan dana yang berhasil dihimpun dari para donatur.

Ia juga meminta seluruh ketua paguyuban agar tidak berkecil hati apabila masih terdapat anggota yang belum menerima bantuan pada kegiatan perdana ini. 

“Mereka tetap dapat didata untuk dipertimbangkan dalam penyaluran bantuan periode berikutnya. Bahkan, penerima yang sudah memperoleh bantuan masih dimungkinkan mendapatkan bantuan kembali apabila kondisinya memang membutuhkan dan tidak terdapat calon penerima lain yang lebih mendesak,” janji Hidayat.

Dengan demikian, prinsip pemerataan dan skala prioritas tetap menjadi pertimbangan dalam setiap program sosial.

Bendahara Umum: Donasi Terkumpul Rp23,6 Juta, Rp22 Jutaan Dialokasikan untuk Santunan Perdana

Sementara itu, Bendahara Umum Yayasan Walet Emas Bandung Raya, Maman Zakar, mengungkapkan bahwa dana yang berhasil dihimpun dari para donatur pada bulan ini mencapai Rp23.600.000.

“Dana tersebut berasal dari kontribusi berbagai pihak, baik donatur perseorangan maupun perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan sosial yayasan. Setelah melalui kesepakatan bersama jajaran pengurus, sekitar Rp22 juta lebih dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan santunan perdana tersebut,” beber Maman.

Maman menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah memberikan kepercayaan kepada yayasan. 

Ia memastikan bahwa setiap dana yang dititipkan akan disalurkan sesuai amanah dan diperuntukkan bagi kepentingan sosial.

“Kami dari jajaran pengurus mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur, baik pribadi maupun perusahaan. Dana yang dititipkan melalui Yayasan Walet Emas ini akan kami salurkan dengan seamanah mungkin. Kami juga mengajak seluruh ketua paguyuban untuk terus bekerja sama agar program sosial ini benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan,” ungkap Maman.

Ia juga mengajak seluruh pengurus dan anggota paguyuban untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai ladang ibadah, sekaligus mempererat tali silaturahmi masyarakat asal Kebumen di tanah perantauan.

Menurutnya, seluruh pengurus harus bekerja dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dari yayasan.

“Semangat kita adalah ibadah dan kepedulian terhadap sesama. Anak-anak kita membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kita semua. Karena itu, mari kita bekerja dengan tulus dan ikhlas, menjaga amanah para donatur, serta memastikan bantuan benar-benar bermanfaat,” tuturnya.

Pintu Kepedulian Terbuka, Donatur dan Perusahaan Diajak Bergabung

Bakti sosial perdana Yayasan Walet Emas Bandung Raya menjadi bukti bahwa kepedulian yang dibangun melalui kebersamaan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Namun, 110 paket bantuan yang disalurkan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, kegiatan ini menjadi titik awal untuk membangun gerakan sosial yang lebih besar, dengan sasaran yang semakin luas dan program yang semakin beragam.

Ke depan, yayasan berharap dapat mengembangkan berbagai kegiatan kemanusiaan, mulai dari santunan yatim dan piatu, bantuan bagi lansia, penyandang disabilitas, warga sakit menahun, keluarga kurang mampu, hingga pengadaan ambulans untuk membantu masyarakat yang membutuhkan layanan transportasi darurat maupun pengantaran jenazah.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dukungan para donatur, pelaku usaha, perusahaan, serta masyarakat luas sangat dibutuhkan.

Yayasan Walet Emas Bandung Raya ingin membangun kepercayaan melalui tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan akuntabel. 

Setiap donasi yang diterima diharapkan memiliki catatan serta laporan penyaluran yang jelas sehingga para donatur dapat mengetahui manfaat dari kontribusi yang diberikan.

Semangat Wani, Ulet, Eling Maring Asale bukan sekadar filosofi nama, melainkan ajakan untuk terus bekerja keras, menjaga persaudaraan, dan tidak melupakan sesama.

Dari Cimahi, gerakan kepedulian itu mulai dirintis. Dengan dukungan dan gotong royong berbagai pihak, Yayasan Walet Emas Bandung Raya berharap dapat menjadi jembatan kebaikan yang mempertemukan mereka yang memiliki kelebihan rezeki dengan saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan.

Sebab, sekecil apa pun bantuan yang diberikan dengan ketulusan, akan menjadi sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan. (Bagdja)

Exit mobile version