BeritaBudayaInformatikaPendidikanRagam Daerah

Haul Ponpes Hidayatul Faizien Berlangsung Khidmat, Said Aqil Siroj Tekankan Pentingnya Menegakkan Sholat

117
Foto Kiri : Tausiyah Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA dalam Haul Sesepuh Ponpes Hidayatul Faizien menekankan pentingnya menjaga tradisi haul, memperkuat silaturahmi, serta menegakkan sholat sebagai fondasi kehidupan umat. Foto Kanan : Tahlil dan doa bersama dipimpin KH. Atjeng Abdul Wahid berlangsung khusyuk dan penuh haru.

Garut//secondnewsupdate.co.id – Suasana khidmat menyelimuti kegiatan haul sesepuh Pondok Pesantren Hidayatul Faizien yang digelar di Desa Cikedokan, Sabtu (11/4/2026). 

Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati lokasi acara, mulai dari ulama, pengurus MWC, badan otonom seperti Ansor, Pagar Nusa, Muslimat, Fatayat, para alumni, hingga masyarakat sekitar.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Said Aqil Siroj selaku Mustasyar PBNU, Atjeng Abdul Wahid Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut, Muhammad Nuh Addawami pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong Cisurupan, serta Aceng Malki Mimar Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PKB yang juga bagian dari keluarga besar ponpes.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tahlil, tawassul, dan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Atjeng Abdul Wahid. 

Suasana haru dan penuh kekhusyukan terasa saat seluruh jamaah larut dalam doa untuk para sesepuh pondok pesantren yang telah wafat.

Dalam tausiyahnya, Said mengajak seluruh jamaah untuk terus mendoakan para ulama serta menjaga tradisi haul sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada guru.

“Ini bukti kecintaan umat kepada para ulama dan guru. Di saat beberapa daerah mulai berkurang, di Garut justru semakin hidup,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa haul bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari ibadah yang memperkuat hubungan spiritual serta mempererat silaturahmi antar keluarga besar pesantren. 

Menurutnya, hubungan dengan pesantren tidak boleh terputus meski para masyayikh telah wafat.

Lebih jauh, Said menyebut pesantren sebagai benteng kokoh pertahanan agama Islam yang telah berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan penekanan khusus pada pentingnya mendirikan sholat dalam kehidupan umat Islam.

Menurutnya, perintah dalam Al-Qur’an bukan sekadar melaksanakan, tetapi menegakkan sholat secara menyeluruh.

“Artinya, kita harus membangun kesadaran sholat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga dan masyarakat,” tegasnya.

Ia mencontohkan, tanggung jawab seorang muslim belum sempurna jika hanya menjalankan sholat secara pribadi tanpa mengajak keluarga. 

Oleh karena itu, budaya sholat berjamaah harus terus dibangun, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Bapak, ibu, anak, hingga lingkungan—semuanya harus diajak sholat. Inilah yang disebut menegakkan sholat,” tambahnya.

Menurut Said, sholat merupakan fondasi utama dalam membangun akhlak, kedisiplinan, serta ketenangan hidup. 

Dengan menjaga sholat, kehidupan individu dan sosial akan lebih tertata serta penuh keberkahan.

Ia pun mengingatkan agar umat tidak menunda ibadah, mengingat waktu yang dibutuhkan untuk sholat relatif singkat, namun memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT.

“Hanya beberapa menit kita gunakan untuk wudhu dan sholat, tetapi nilainya sangat besar,” ujarnya.

Di akhir tausiyahnya, ia mengajak seluruh umat untuk terus menjaga warisan para ulama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menjadikan pesantren sebagai pusat peradaban yang melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak.

“Pesantren adalah benteng peradaban Islam. Dari sinilah lahir umat yang bermartabat,” pungkasnya. (Asan)

Exit mobile version