Jawa Barat, Cimahi l secondnewsupdate.co.id – Kabar dibukanya kembali Jembatan Raden Demang Hardjakusumah atau yang lebih dikenal sebagai Jembatan Pemkot Cimahi mulai membawa angin segar bagi pengguna jalan.
Di tengah kepadatan lalu lintas yang masih menghantui sejumlah ruas akibat pembangunan infrastruktur, jembatan yang berada di depan kompleks Pemerintah Kota Cimahi tersebut ditargetkan kembali bisa digunakan kendaraan roda dua.
Secara teknis, akses jembatan ditargetkan mulai dapat dilalui sepeda motor pada 5 September 2026. Namun, Pemerintah Kota Cimahi menegaskan bahwa pembukaan akses tidak boleh semata-mata mengejar target waktu.
Kondisi fisik jembatan, hasil pemeriksaan teknis, kelayakan konstruksi hingga faktor keselamatan pengguna jalan menjadi pertimbangan utama sebelum akses benar-benar dibuka untuk masyarakat.
Langkah tersebut menjadi perhatian karena keberadaan jembatan memiliki posisi strategis dalam pergerakan kendaraan di Kota Cimahi.
Selama proses pemeliharaan berlangsung, pola perjalanan masyarakat mengalami perubahan dan ikut memberikan tekanan terhadap sejumlah ruas jalan, terutama kawasan Jalan Amir Mahmud.
Jembatan Dibuka, Harapan Baru untuk Pengguna Jalan
Bagi masyarakat, kembalinya akses Jembatan Pemkot bukan sekadar soal sebuah ruas jalan yang kembali terbuka.
Jembatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari solusi untuk memperlancar pergerakan kendaraan, terutama ketika pada saat bersamaan pembangunan Underpass Jalan Gatot Subroto masih berlangsung.
Kondisi lalu lintas di Jalan Amir Mahmud sendiri masih menjadi perhatian pemerintah. Pada waktu tertentu, terutama pagi dan sore, volume kendaraan yang datang dari berbagai arah dapat bertemu dalam waktu hampir bersamaan sehingga memicu antrean panjang.
Arus kendaraan dari Jalan Amir Mahmud arah barat, Kolmas, Babakan, Margamulya hingga Jalan Daeng ikut memberikan beban terhadap jaringan jalan di kawasan tersebut.
Karena itu, setiap akses yang bisa kembali difungsikan diharapkan mampu membantu memperluas pilihan pergerakan kendaraan dan mengurangi tekanan pada titik tertentu.
Namun, Pemkot Cimahi memilih bersikap hati-hati. Jembatan tidak akan dibuka hanya karena masyarakat sudah menunggu.
Keselamatan Tidak Bisa Ditawar
Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi, Endang, menegaskan pembukaan Jembatan Raden Demang Hardjakusumah harus melalui pertimbangan yang matang.
Menurutnya, target 5 September 2026 merupakan target teknis, tetapi keputusan penggunaan jembatan tetap harus mempertimbangkan pemeriksaan dan persetujuan pihak berwenang.
“Sebelum jembatan dibuka untuk umum, perlu dipastikan seluruh aspek teknis, keselamatan dan kelayakan jalan telah memenuhi ketentuan sehingga masyarakat dapat menggunakan akses tersebut dengan aman,” tegas Endang.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak ingin mengambil risiko dengan membuka akses sebelum seluruh persyaratan keselamatan terpenuhi.
Sebab, membuka kembali sebuah jembatan bukan hanya persoalan mengalihkan arus kendaraan. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan infrastruktur tersebut benar-benar siap menerima beban lalu lintas.
Rekayasa Lalu Lintas Terus Diperkuat
Sembari menunggu kepastian penggunaan jembatan, Pemkot Cimahi bersama Satlantas Polres Cimahi terus melakukan penataan lalu lintas.
Salah satu rekayasa yang telah diterapkan adalah pemberlakuan dua arah atau counterflow di Underpass Dustira sejak pengalihan arus pada 19 Agustus 2026.
Skema tersebut diterapkan untuk memaksimalkan kapasitas jalan dan membantu mengurangi tekanan kendaraan di jalur terdampak.
Petugas di lapangan juga diperkuat pada sejumlah titik yang mengalami kepadatan. Pengaturan kendaraan dilakukan secara dinamis, menyesuaikan kondisi aktual terutama ketika arus lalu lintas mengalami peningkatan.
Titik Simpang Jalan Daeng–Cihanjuang–Amir Mahmud turut menjadi perhatian karena memiliki peranan penting dalam mengatur pertemuan arus kendaraan dari beberapa arah.
Optimalisasi pengaturan di simpang tersebut diharapkan mampu mencegah antrean menjalar dan menimbulkan kemacetan baru di ruas berikutnya.
Jangan Sampai Proyek Infrastruktur Jadi Beban Warga
Pembangunan Underpass Gatot Subroto maupun pemeliharaan Jembatan Raden Demang Hardjakusumah pada dasarnya merupakan bagian dari upaya memperbaiki infrastruktur dan konektivitas Kota Cimahi.
Namun, setiap pembangunan tentu membawa konsekuensi selama proses pengerjaan berlangsung.
Perubahan jalur, penyempitan ruang kendaraan hingga pengalihan arus dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
Karena itu, pemerintah dituntut memastikan pembangunan tetap berjalan tanpa membuat mobilitas warga terganggu terlalu lama.
Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) menjadi salah satu ruang penting untuk memastikan persoalan tersebut terus dievaluasi.
Pemerintah, kepolisian, unsur kewilayahan, masyarakat dan pelaksana pekerjaan melakukan koordinasi untuk mencari pola pengaturan yang paling efektif.
Perlengkapan Jalan Ikut Jadi Sorotan
Tak hanya persoalan arus kendaraan, aspek keselamatan di sekitar kawasan proyek juga mendapatkan perhatian.
Pihak pelaksana pembangunan Underpass Gatot Subroto diminta memperbaiki sekaligus melengkapi berbagai perlengkapan lalu lintas.
Traffic cone yang mengalami kerusakan, tali atau tambang pembatas berwarna oranye hingga Rambu Pendahulu Petunjuk Jurusan (RPPJ) menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Keberadaan perlengkapan tersebut sangat penting untuk memberikan informasi kepada pengendara sekaligus memperjelas jalur yang dapat digunakan selama proyek berlangsung.
Jembatan Pemkot dan Asa Mengurai Kepadatan Cimahi
Jika seluruh pemeriksaan teknis dan persyaratan keselamatan terpenuhi, pembukaan kembali akses kendaraan roda dua di Jembatan Raden Demang Hardjakusumah pada 5 September 2026 tentu menjadi momentum yang dinantikan.
Namun, satu akses yang dibuka tentu bukan satu-satunya jawaban atas persoalan kemacetan.
Pemerintah tetap harus memastikan seluruh rekayasa lalu lintas berjalan efektif, petugas hadir di titik rawan, perlengkapan jalan memadai, serta setiap perubahan kondisi di lapangan segera direspons.
Harapan masyarakat pun sederhana: pembangunan infrastruktur tetap berjalan, tetapi aktivitas sehari-hari tidak ikut tersandera.
Jembatan depan Pemkot Cimahi kini bukan hanya ditunggu sebagai akses penghubung, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mengembalikan kelancaran mobilitas warga.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari rampungnya pekerjaan fisik, tetapi juga dari seberapa aman, nyaman dan lancar masyarakat dapat kembali menggunakan infrastruktur tersebut. (Bagdja)
