Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInformatikaRagam Daerah

Kabupaten Tangerang Jadi Tuan Rumah Seminar Nasional Aglomerasi 2026, Bahas MRT hingga Pengolahan Sampah Jadi Listrik

1999
×

Kabupaten Tangerang Jadi Tuan Rumah Seminar Nasional Aglomerasi 2026, Bahas MRT hingga Pengolahan Sampah Jadi Listrik

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Bima Arya Sugiarto, saat menyerahkan penghargaan kepada Bupati Tangerang Mochamad Maesyal Rasyid yang didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, (kanan ujung)

Kab Tangerang/ secondnewsupdate.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang dipercaya menjadi tuan rumah Seminar Nasional Diskusi Aglomerasi dalam rangkaian Sustainable Aglo-City Summit 2026 yang digelar di Hotel Novotel BSD City, Rabu (29/4/2026).

Penunjukan Kabupaten Tangerang sebagai lokasi pelaksanaan forum strategis nasional ini menjadi momentum penting dalam memperkuat tata kelola pemerintahan kolaboratif antarwilayah penyangga DKI Jakarta, termasuk daerah di Banten dan Jawa Barat.

Example 300x600

Forum ini digelar sebagai respons atas kebijakan pemerintah pusat terkait penguatan kawasan aglomerasi Jabodetabekpunjur yang dinilai semakin mendesak di tengah laju urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, dan tingginya mobilitas masyarakat lintas daerah.

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa sinkronisasi kebijakan antarwilayah kini menjadi kebutuhan mutlak agar pembangunan kawasan metropolitan berjalan efektif dan berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang dipercaya menjadi tuan rumah Seminar Nasional Diskusi Aglomerasi dalam rangkaian Sustainable Aglo-City Summit 2026 yang digelar di Hotel Novotel BSD City, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, Kabupaten Tangerang memiliki posisi strategis sebagai salah satu wilayah penyangga utama ibu kota dengan pertumbuhan kawasan industri, permukiman, hingga pusat ekonomi yang sangat pesat.

“Kabupaten Tangerang sangat siap menjalankan peran strategis ini. Kita tidak bisa berjalan sendiri dalam mengelola wilayah yang sudah saling terhubung secara ekonomi maupun sosial,” ujar Maesyal.

Salah satu isu utama yang menjadi sorotan dalam seminar nasional tersebut adalah integrasi transportasi dan infrastruktur, khususnya rencana pengembangan MRT Jakarta–Tangerang.

Proyek ini dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab persoalan kemacetan dan meningkatkan kualitas mobilitas masyarakat yang setiap hari melakukan perjalanan antarwilayah.

“Integrasi sarana transportasi, khususnya pengembangan MRT Jakarta-Tangerang, adalah kebutuhan mendesak agar masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang efisien, aman, dan terintegrasi,” tegasnya.

Bupati Tangerang Mochamad Maesyal Rasyid saat memberikan sambutannya

Selain transportasi, isu lingkungan turut menjadi agenda penting. Pemkab Tangerang tengah menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Jatiwaringin.

Program ini disebut membutuhkan koordinasi lintas wilayah, terutama terkait pembangunan akses jalan, sistem logistik, hingga kesiapan teknologi pengolahan sampah modern.

“Terkait pengolahan sampah di Jatiwaringin, kita merancang integrasi mulai dari akses jalan hingga teknologi pengolahan agar memberi nilai tambah berupa listrik,” jelas Maesyal.

Tak hanya fokus pada pembangunan perkotaan, seminar nasional juga membahas penguatan sektor pertanian dan ekonomi kerakyatan melalui sinkronisasi program Asta Cita pemerintah pusat.

Pemkab Tangerang ingin memastikan manfaat pembangunan aglomerasi tidak hanya dirasakan kawasan industri besar, tetapi juga mampu mengangkat ekonomi desa, petani, serta pelaku UMKM.

“Kita ingin aglomerasi tidak hanya dinikmati industri besar, tetapi juga memperkuat ekonomi desa agar petani dan UMKM tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, menjelaskan seminar ini merupakan bentuk respons terhadap dinamika pembangunan Kabupaten Tangerang yang semakin kompleks sebagai bagian dari kawasan aglomerasi Jabodetabekpunjur.

Menurutnya, perkembangan wilayah yang sangat cepat memunculkan berbagai tantangan strategis, mulai dari pengelolaan sampah, konektivitas transportasi publik, hingga ketahanan pangan di tengah tekanan urbanisasi.

“Pemerintah Kabupaten Tangerang memandang perlu adanya ruang diskusi strategis yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan praktisi untuk merumuskan solusi yang komprehensif, terintegrasi, dan implementatif,” ujar Soma.

Ia menambahkan, hasil seminar diharapkan mampu melahirkan rekomendasi kebijakan konkret sebagai bahan pertimbangan kepala daerah dalam menentukan arah pembangunan kawasan metropolitan ke depan.

Di lokasi yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Bima Arya Sugiarto, menyebut konsep aglomerasi memiliki prospek masa depan yang sangat menjanjikan asalkan tidak terjebak dalam birokrasi kelembagaan yang terlalu rumit.

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa sinkronisasi kebijakan antarwilayah kini menjadi kebutuhan mutlak agar pembangunan kawasan metropolitan berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Pemerintah pusat berkomitmen menjadi jembatan bagi kepala daerah dalam mengakses dukungan kebijakan maupun pendanaan. Fokus pada isu sektoral, petakan masalah, lalu langsung eksekusi,” kata Bima Arya.

Ia optimistis kerja sama erat antara Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, serta dukungan pemerintah pusat akan menjadikan kawasan ini sebagai model pelayanan publik modern dan terintegrasi.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, kegiatan juga ditutup dengan Deklarasi Aglomerasi yang ditandai permainan angklung bersama oleh perwakilan sejumlah daerah di kawasan Jabodetabekpunjur sebagai simbol harmonisasi dan kolaborasi pembangunan lintas wilayah.
(Dia)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600