BeritaInternasionalKasusLingkungan HidupPeristiwaRagam Daerah

Kebakaran TPA Jatiwaringin Makin Gawat, Kementerian LH Turunkan 30 Personel Manggala Agni, Ancaman Gas Metana Mengintai

511
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menjelaskan saat dikonfirmasi wartawan, bahwa karakteristik kebakaran di TPA Jatiwaringin berbeda dengan kebakaran biasa.

Kab Tangerang, Banten/ secondnewsupdate.co.id – Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga kini masih menjadi perhatian serius pemerintah. Memasuki hari kelima, api yang membakar sekitar 15 hektare kawasan TPA belum sepenuhnya berhasil dipadamkan karena terus menyala dari bawah timbunan sampah.

Menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup (LH) mengerahkan 30 personel Manggala Agni dari Jawa Barat dan Sulawesi untuk memperkuat proses pemadaman dengan metode injeksi air ke bagian dalam tumpukan sampah. 

Langkah ini ditempuh karena penyiraman dari permukaan dinilai tidak mampu menjangkau titik api yang berada jauh di bawah gunungan sampah.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menjelaskan bahwa karakteristik kebakaran di TPA Jatiwaringin berbeda dengan kebakaran biasa. 

Menurutnya, api yang berada di bawah permukaan memiliki kemiripan dengan kebakaran lahan gambut, namun tingkat risikonya jauh lebih tinggi akibat adanya akumulasi gas metana (CH4).

“Memang pemadaman ini bukan hal yang mudah. Di permukaan terlihat padam, tetapi ketika dicek ke bagian bawah ternyata apinya masih menyala,” ujar Diaz. Sabtu (4/7/2026).

Ia menegaskan, gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah berpotensi memicu ledakan apabila tidak segera dikendalikan. 

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Kalau di gambut mungkin hanya terbakar, tetapi di sini ada gas metana sehingga potensi ledakannya jauh lebih besar,” jelasnya.

Gunungan Sampah Setinggi 30 Meter Jadi Tantangan

Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga kini masih menjadi perhatian serius pemerintah. Memasuki hari kelima, api yang membakar sekitar 15 hektare kawasan TPA belum sepenuhnya berhasil dipadamkan karena terus menyala dari bawah timbunan sampah.

Selain luasnya area kebakaran, petugas juga menghadapi tantangan berupa tingginya timbunan sampah yang diperkirakan mencapai 20 hingga 30 meter. 

Besarnya volume sampah membuat bara api tetap bertahan di bagian dalam meski permukaan telah disiram berkali-kali.

Untuk memastikan kondisi lingkungan tetap terkendali, Kementerian LH turut mengoperasikan dua unit Mobile Monitoring System guna memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran.

Hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara sempat berada pada level yang sangat berbahaya. Indeks polusi bahkan tercatat menembus angka sekitar 1.000, jauh melampaui ambang batas kategori sehat.

“Baku mutu yang baik berada di angka 15,5. Sempat mencapai sekitar 1.000, meski tadi malam sudah mulai menurun drastis,” kata Diaz.

Operasional alat pemantau sempat mengalami hambatan akibat keterbatasan pasokan listrik di lokasi. 

Kementerian LH kemudian berkoordinasi dengan PLN agar suplai daya sebesar 3.500 watt dapat dipenuhi sehingga pemantauan kualitas udara berjalan optimal.

Manggala Agni Gunakan Metode Injeksi Air

Dalam upaya mempercepat pemadaman, tim Manggala Agni menerapkan teknik water injection atau penyuntikan air langsung ke bagian bawah timbunan sampah.

Menurut Diaz, metode ini jauh lebih efektif dibanding penyiraman dari atas karena mampu menjangkau sumber api yang tersembunyi di kedalaman gunungan sampah.

“Kita membutuhkan bantuan Manggala Agni untuk melakukan injection sampai ke titik api di bawah. Kalau hanya disiram dari atas, bagian bawahnya tetap terbakar,” ujarnya.

Teknik tersebut membutuhkan modifikasi peralatan berupa pipa berukuran lebih panjang mengingat kedalaman tumpukan sampah jauh melebihi kedalaman kebakaran gambut pada umumnya.

Selain itu, pasokan air bersih dari PDAM juga menjadi kebutuhan penting agar material lumpur tidak menyumbat sistem injeksi bertekanan tinggi yang digunakan selama proses pemadaman.

Momentum Evaluasi Pengelolaan Sampah Nasional

Kementerian Lingkungan Hidup menilai kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi peringatan serius mengenai pentingnya pembenahan sistem pengelolaan sampah di Indonesia.

Menurut Diaz, penerapan sistem sanitary landfill maupun closed landfill harus menjadi prioritas untuk meminimalkan risiko kebakaran, pencemaran udara, hingga ledakan gas metana di lokasi pembuangan akhir.

Hingga Sabtu (4/7/2026), tim gabungan masih terus berjibaku memadamkan titik-titik api yang tersebar di area seluas sekitar 15 hektare. 

Pemerintah berharap metode injeksi air yang dilakukan Manggala Agni dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus mengurangi risiko pencemaran udara dan potensi ledakan gas metana di kawasan TPA Jatiwaringin. (Dia).

Penulis: Diana Editor: Bama
Exit mobile version