BeritaLingkungan HidupRagam Daerah

Kolong Pasopati Bandung Disorot! Herman Suryatman Geruduk Tumpukan Sampah, Kecamatan Diminta Bergerak dari Hulu

113
Pemandangan tumpukan sampah di kawasan bawah Jembatan Pasopati atau Jembatan Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, mendapat perhatian serius dari Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman.

Jawa Barat, Bandung l secondnewsupdat.co.id — Pemandangan tumpukan sampah di kawasan bawah Jembatan Pasopati atau Jembatan Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, mendapat perhatian serius dari Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman.

Herman bahkan turun langsung memimpin gerakan bebersih di kawasan Taman Skateboard, kolong Jembatan Pasopati, Sabtu (12/9/2026). 

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong penataan kawasan sekaligus memperkuat kesadaran seluruh unsur kewilayahan terhadap persoalan persampahan.

Saat berada di lokasi, Herman melihat langsung kondisi kawasan yang masih dipenuhi timbunan sampah. 

Ia menilai situasi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, terlebih kawasan bawah Jembatan Pasopati merupakan salah satu ruang publik yang turut membentuk wajah Kota Bandung.

“Pagi ini kita melakukan gerakan bebersih di bawah Jembatan Pasopati. Kita lihat bagaimana sampahnya menumpuk luar biasa,” kata Herman.

Menurut dia, persoalan kebersihan di kawasan tersebut membutuhkan penanganan cepat sekaligus berkelanjutan.

Pengangkutan sampah yang telah menumpuk dinilai tidak akan cukup apabila tidak dibarengi dengan upaya mencegah munculnya timbulan sampah baru.

Herman: Kolong Pasopati Harus Bersih, Tak Boleh Ditunda

Herman menegaskan kawasan kolong Jembatan Pasopati harus segera dibenahi. 

Ia meminta kebersihan kawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi melibatkan seluruh unsur kewilayahan mulai dari kecamatan hingga kelurahan.

“Kolong Jembatan Pasopati harus bersih dan tidak pakai lama,” tegasnya.

Ia menilai diperlukan komitmen bersama agar kawasan yang sudah dibersihkan tidak kembali menjadi titik penumpukan sampah. 

Karena itu, jajaran kewilayahan diminta aktif melakukan pengawasan sekaligus mengedukasi masyarakat.

Bagi Herman, penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya. 

Rumah tangga menjadi salah satu titik penting yang harus mendapatkan perhatian melalui pengurangan sampah, pemanfaatan kembali barang yang masih memiliki nilai guna, serta pemilahan dan daur ulang.

“Kami minta komponen kecamatan membantu mengedukasi masyarakat untuk mengurangi sampah dari rumah tangga, memanfaatkan sampah dan mendaur ulang sampah sejak dari rumah tangga,” ujarnya.

Sarimukti Terbatas, Sampah Harus Ditangani dari Hulu

Herman juga mengingatkan persoalan kapasitas Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti yang semakin terbatas.

Selama ini, sampah dari kawasan perkotaan pada akhirnya masih banyak yang dibawa menuju fasilitas tersebut. 

Kondisi itu, menurut Herman, menjadi alasan kuat mengapa pengelolaan sampah tidak bisa terus bertumpu pada tempat pembuangan akhir.

“Seperti sampah-sampah ini, ujungnya dibuang ke TPS Sarimukti, sementara Sarimukti sudah penuh,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari sekadar mengangkut dan membuang menjadi pengurangan sampah sejak dari sumber.

Kecamatan dan kelurahan dinilai memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. 

Edukasi mengenai pemilahan sampah, pengurangan timbulan sampah rumah tangga, pemanfaatan kembali barang bekas, hingga daur ulang perlu diperkuat.

Herman menekankan bahwa keberhasilan penanganan sampah tidak cukup diukur dari bersihnya sebuah kawasan setelah dilakukan kerja bakti. 

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat tidak kembali membuang sampah sembarangan dan mampu mengelola sampah sejak dari rumah.

“Jadi kami minta komitmen unsur kewilayahan, terutama kecamatan, agar permasalahan persampahan ini diselesaikan sejak dari hulu,” pungkas Herman.

Gerakan bebersih di bawah Jembatan Pasopati tersebut pun menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan ruang publik membutuhkan kerja bersama.

Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat sebagai pihak yang setiap hari beraktivitas dan menggunakan ruang-ruang publik di Kota Bandung. (Burhan)

Exit mobile version