Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Ancaman krisis air bersih mulai menghantui warga Kota Cimahi menjelang musim kemarau 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi memprediksi ratusan wilayah rukun warga (RW) berpotensi mengalami kekeringan akibat dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memicu cuaca lebih kering dari biasanya.
Berdasarkan hasil pemetaan BPBD Kota Cimahi, sedikitnya 312 RW yang tersebar di seluruh kelurahan masuk kategori rawan terdampak kekeringan dan berpotensi mengalami gangguan pasokan air bersih pada puncak musim kemarau mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, yang akrab dipanggil Andi, mengatakan pihaknya telah meningkatkan koordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca sekaligus menyiapkan langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan.
Menurutnya, potensi kekeringan tahun ini tidak hanya terjadi di wilayah tertentu, tetapi dapat dirasakan hampir merata di seluruh Kota Cimahi.
“Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung antara Agustus hingga Oktober 2026. Seluruh wilayah Kota Cimahi memiliki potensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih,” ujar Andi.
Wilayah Selatan Jadi Titik Paling Rentan
Mengacu pada data Kajian Risiko Bencana (KRB), wilayah selatan Cimahi masih menjadi kawasan yang paling rentan mengalami kekeringan.
Daerah seperti Kelurahan Melong, Utama, dan Leuwigajah tercatat mengalami dampak paling serius saat musim kemarau panjang beberapa tahun lalu.
Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumber air tanah dan sumur warga yang debitnya terus menurun ketika kemarau berlangsung dalam waktu lama.
Penurunan muka air tanah menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya ketersediaan air bersih.
Bahkan di sejumlah kawasan, sumur warga kerap mengering sehingga kebutuhan air sehari-hari terganggu.
Selain faktor cuaca, tingginya pemanfaatan air tanah oleh berbagai sektor juga dinilai mempercepat berkurangnya cadangan air bawah tanah, terutama di wilayah padat penduduk dan kawasan industri.
BPBD Siapkan Operasi Distribusi Air Bersih
Menghadapi potensi krisis tersebut, BPBD Kota Cimahi telah menyiapkan skema penanganan darurat apabila terjadi kelangkaan air bersih di masyarakat.
Distribusi air bersih akan dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi serta Perumda Tirta Raharja.
Langkah ini akan dijalankan berdasarkan laporan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
BPBD memastikan pasokan air akan segera disalurkan ke wilayah yang terdampak untuk mengurangi risiko gangguan aktivitas warga selama musim kemarau.
Ancaman Kebakaran Ikut Diwaspadai
Selain kekeringan, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan permukiman yang biasanya meningkat saat musim kemarau.
Hasil pemetaan menunjukkan kawasan Cireundeu di wilayah selatan serta Cipageran dan sekitarnya di wilayah utara termasuk daerah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi.
Meski demikian, BPBD menilai tingkat ancaman kebakaran masih berada pada kategori sedang. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan kebakaran lebih banyak terjadi pada lahan kosong dan area yang ditumbuhi alang-alang kering.
Untuk mengantisipasi kejadian yang lebih besar, BPBD terus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Cimahi serta BMKG guna memantau perkembangan cuaca selama musim kemarau berlangsung.
Meskipun sejumlah wilayah masuk zona rawan, BPBD menyebut musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun masyarakat tetap diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dipicu cuaca kering ekstrem. (Bagdja)
















