HukumKriminalRagam Daerah

“Melawan Lupa” Tragedi Dogiyai 2011, Mahasiswa IPMADO Sorong Soroti Luka Lama yang Belum Tuntas

112
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Sorong, foto bersama dan kekompakan untuk mengangkat kembali tragedi berdarah yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada April 2011.

Sorong Papua Barat Daya// secondnewsupdate.co.id – Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Sorong mengangkat kembali tragedi berdarah yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada April 2011.

Peristiwa yang telah berlalu 15 tahun itu dinilai masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat, terutama keluarga korban.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi ruang terbuka yang digelar di Asrama Dogiyai, Sorong, Rabu (22/4/2026).

Dalam forum tersebut, mahasiswa memaparkan kembali kronologi dan dampak tragedi yang terjadi pada 13–16 April 2011.

Berawal dari Razia Togel
Insiden bermula pada Rabu, 13 April 2011, saat aparat Polsek Moanemani melakukan razia judi togel di Kompleks Pasar Moanemani.

Dalam operasi tersebut, polisi menyita kupon dan uang tunai milik warga, termasuk milik Dominikus Auwe.

Keberatan atas penyitaan itu memicu reaksi warga yang kemudian mendatangi Mapolsek Moanemani untuk menuntut pengembalian barang.

Situasi memanas setelah negosiasi tidak mencapai kesepakatan, hingga terjadi aksi penyerangan dan perusakan fasilitas kantor polisi.

Menurut kesaksian warga yang dihimpun mahasiswa, aparat kemudian melepaskan tembakan ke arah massa.

Dua warga dilaporkan tewas di tempat, yakni Dominikus Auwe dan Aloisius Waine. Tiga lainnya mengalami luka kritis.

Penyisiran dan Pengungsian
Sehari setelah kejadian, pada 14 April 2011, aparat gabungan TNI/Polri melakukan penyisiran di sejumlah kampung di Dogiyai.

Warga mencatat sedikitnya 10 rumah dibakar, serta kebun dan ternak dirusak.

Situasi keamanan yang tidak kondusif membuat ribuan warga mengungsi ke wilayah lain maupun ke hutan.

Aktivitas di ibu kota kabupaten dilaporkan lumpuh, sementara krisis pangan dan layanan kesehatan mulai dirasakan para pengungsi.

Korban di Pengungsian Bertambah
Pada Sabtu, 16 April 2011, dua warga dilaporkan meninggal dunia di lokasi pengungsian, yakni seorang anak berusia 8 tahun dan seorang perempuan dewasa.

Keduanya diduga meninggal akibat kondisi pengungsian yang memprihatinkan.

Dampak yang Tercatat
Mahasiswa IPMADO merangkum dampak sementara tragedi tersebut, antara lain:
4 korban jiwa (2 akibat tembakan, 2 di pengungsian)
3 korban luka berat
Sedikitnya 10 rumah dibakar
Kerusakan kebun dan ternak warga.

Pengungsian massal yang memicu krisis kemanusiaan
Tuntutan “Melawan Lupa”
Mahasiswa IPMADO Sorong menegaskan bahwa hingga tahun 2026, belum ada kejelasan penyelesaian kasus maupun pemulihan menyeluruh bagi korban.

Mereka menyerukan pentingnya komitmen negara dalam mengusut tuntas peristiwa tersebut serta memastikan keadilan bagi para korban dan keluarga.

“Melawan lupa bukan sekadar mengenang, tetapi juga menuntut keadilan agar tragedi serupa tidak kembali terulang,” demikian salah satu pernyataan dalam diskusi tersebut. (Jeri)

Penulis: Jeri P DegeiEditor: Bama
Exit mobile version