Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInformatikaRagam Daerah

Milangkala ke-9 Cepot Motah Indonesia, Gebyar Budaya Nusantara Jadi Panggung Merawat Warisan Leluhur

105
×

Milangkala ke-9 Cepot Motah Indonesia, Gebyar Budaya Nusantara Jadi Panggung Merawat Warisan Leluhur

Sebarkan artikel ini
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Paguyuban Cepot Motah Indonesia menggelar Milangkala ke-9 sekaligus Gebyar Budaya Nusantara di Gedung Kesenian, Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (16/8/2026).

Jawa Barat, Kota Bandung l secondnewsupdate.co.id — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Paguyuban Cepot Motah Indonesia menggelar Milangkala ke-9 sekaligus Gebyar Budaya Nusantara di Gedung Kesenian, Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (16/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat soliditas organisasi, sekaligus meneguhkan komitmen dalam menjaga serta melestarikan kekayaan seni dan budaya Nusantara.

Example 300x600

Acara tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Bandung, Ketua Umum Paguyuban Cepot Motah Indonesia Tomy Subagja beserta jajaran pengurus, Ketua Umum BBC Komunitas, pimpinan organisasi dan komunitas, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, serta sejumlah undangan lainnya.

Milangkala ke-9 tidak sekadar menjadi peringatan perjalanan Paguyuban Cepot Motah Indonesia. 

Perhelatan tersebut juga dikemas sebagai ruang untuk memperkenalkan, menghidupkan, dan memberikan panggung bagi beragam kesenian tradisional Nusantara di tengah derasnya perkembangan zaman.

Usai kegiatan, Ketua Umum DPP Paguyuban Cepot Motah Indonesia, Tomy Subagja, mengatakan momentum Milangkala ke-9 harus menjadi pengingat bagi seluruh jajaran organisasi untuk semakin memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya.

Menurut Tomy, Gebyar Budaya Nusantara diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan seremonial, tetapi mampu menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjaga agar seni dan budaya tradisional tetap hidup, berkembang, serta dikenal oleh generasi muda.

“Melalui milangkala ke-9 ini, kami berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya Nusantara semakin tumbuh. Budaya bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi merupakan identitas dan jati diri bangsa yang harus kita rawat bersama,” ujar Tomy.

Ia menegaskan, budaya Nusantara merupakan warisan berharga yang dititipkan para leluhur kepada generasi penerus. Karena itu, berbagai bentuk seni tradisional membutuhkan perhatian, ruang ekspresi, dan dukungan agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Tomy juga secara khusus mengajak seluruh pengurus dan anggota Paguyuban Cepot Motah Indonesia, terutama kalangan milenial dan generasi muda, untuk terlibat langsung dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah.

“Generasi muda harus menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya. Jangan sampai budaya yang menjadi warisan leluhur justru semakin jauh dari generasi penerus. Kita harus mengenal, mencintai, kemudian ikut menjaga dan mengembangkannya,” katanya.

Lebih lanjut, Tomy berharap Paguyuban Cepot Motah Indonesia dapat terus membangun sinergi dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas, pelaku seni, budayawan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat penting agar kegiatan kebudayaan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membuka ruang lebih luas bagi seniman dan generasi muda untuk berkarya.

“Kami berharap ke depan dapat terus berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dalam mengembangkan seni budaya Nusantara. Dengan kebersamaan, kita bisa menciptakan ruang yang lebih luas bagi para pelaku seni dan generasi muda untuk berkarya,” tuturnya.

Di sisi lain, Tomy mengimbau seluruh anggota Paguyuban Cepot Motah Indonesia agar terus menjaga soliditas organisasi, memperkuat semangat gotong royong, serta menjadikan organisasi sebagai wadah yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Ia berharap Milangkala ke-9 dan Gebyar Budaya Nusantara dapat menjadi pemantik semangat bagi masyarakat untuk semakin mencintai dan menjaga kebudayaan Indonesia.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya Nusantara. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi mari kita menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya agar tetap tumbuh dan diwariskan kepada anak cucu kita,” pungkasnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan kesenian daerah Nusantara. 

Pertunjukan tersebut mendapat sambutan antusias dari para tamu dan peserta sekaligus menjadi gambaran nyata tentang keberagaman seni dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Melalui perhelatan tersebut, Paguyuban Cepot Motah Indonesia menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. 

Seni tradisional tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dimainkan, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Acara Milangkala ke-9 dan Gebyar Budaya Nusantara ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar Paguyuban Cepot Motah Indonesia semakin solid, berkembang, dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjaga serta melestarikan seni dan budaya Nusantara. (Burhan)

Penulis: Burhanudin Editor: Bama
Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600