Jawa Barat, Cimahi l secondnewsupdate.co.id – Malam ronda di tengah permukiman warga bukan sekadar rutinitas menjaga keamanan lingkungan. Di Kota Cimahi, kegiatan tersebut kini menjadi ruang dialog langsung antara pemerintah dan masyarakat melalui program Pak Wali Kota Ngawangkong Bari Ngaronda (PAWANG RONDA).
Program yang digagas Pemerintah Kota Cimahi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) itu kembali digelar di Lapangan Voli Kampung Mekarsari, Kelurahan Padasuka, beberapa waktu yang lalu.
Suasana ronda yang biasanya identik dengan pos keamanan warga berubah menjadi forum terbuka.
Warga diberi kesempatan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, sementara jajaran pemerintah dan aparat penegak hukum mendengarkan langsung tanpa sekat birokrasi.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko, Kepala Kejaksaan Negeri Cimahi Neneng Rahmadini, Ketua Pengadilan Negeri Bale Bandung Fery Haryanta, serta Wakapolres Cimahi Kompol Zulkarnaen.
Kehadiran jajaran pimpinan daerah di tengah masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih terbuka. Ngatiyana menilai, persoalan di lapangan tidak selalu bisa diketahui secara utuh hanya melalui laporan administratif dari perangkat daerah.
Karena itu, menurutnya, pemimpin harus berani turun langsung menemui masyarakat dan mendengar persoalan dari sumbernya.
“Kami tidak ingin ada jarak dengan masyarakat, maka kami turun langsung mendengarkan keluh kesah warga,” tegas Ngatiyana.
Warga Bongkar Persoalan Lingkungan
Dialog PAWANG RONDA di wilayah RW 07 berlangsung cukup dinamis. Sejumlah warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan keresahan yang selama ini muncul di lingkungan tempat tinggal mereka.
Salah satu persoalan yang mencuat adalah keberadaan rumah indekos di sekitar kawasan kampus Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).
Pertumbuhan hunian indekos dinilai perlu mendapatkan perhatian karena berkaitan dengan pendataan penduduk, pengawasan lingkungan hingga potensi munculnya persoalan sosial apabila tidak dikelola dengan baik.
Warga juga menyoroti aktivitas kendaraan bermotor dengan knalpot bising yang dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat.
Keluhan tersebut langsung mendapat respons dari jajaran kepolisian. Wakapolres Cimahi Kompol Zulkarnaen menginstruksikan agar pendataan terhadap penduduk pendatang dilakukan secara berkala.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keberadaan warga pendatang dapat terdata dengan baik sekaligus memperkuat pengawasan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Tak hanya itu, penertiban terhadap kendaraan yang menggunakan knalpot tidak sesuai standar juga akan ditingkatkan.
Data Kemiskinan Ikut Dipertanyakan
Persoalan lain yang tidak kalah penting muncul dalam forum tersebut, yakni terkait akurasi data kemiskinan.
Warga mempertanyakan masih adanya data penerima bantuan yang dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan.
Persoalan data menjadi krusial karena menyangkut penyaluran berbagai program bantuan sosial pemerintah.
Pemkot Cimahi menyatakan akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Sosial untuk mendorong proses verifikasi dan validasi data kembali.
Upaya tersebut diharapkan mampu memperbaiki ketepatan sasaran penerima bantuan, sehingga masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak justru terlewatkan.
PAWANG RONDA Bukan Sekadar Ngobrol
Bagi Pemkot Cimahi, PAWANG RONDA dirancang bukan hanya sebagai kegiatan seremonial atau sekadar hadir bersama warga di malam hari.
Lebih jauh, program tersebut menjadi pendekatan pemerintah untuk membangun komunikasi dua arah sekaligus memetakan persoalan lingkungan secara langsung.
Dari persoalan keamanan, pendataan warga, ketertiban kendaraan hingga persoalan sosial dan kemiskinan, seluruh masukan masyarakat menjadi bahan bagi pemerintah dan Forkopimda untuk menentukan langkah tindak lanjut.
Konsep “Ngawangkong Bari Ngaronda” juga membawa pesan bahwa menjaga keamanan dan membangun kota tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat.
Masyarakat memiliki peran penting sebagai bagian dari sistem pengawasan lingkungan.
Dengan duduk bersama warga, pemerintah dapat memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai persoalan yang terjadi di tingkat paling bawah.
Di sisi lain, masyarakat juga mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemangku kebijakan.
Program PAWANG RONDA diharapkan terus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat Kota Cimahi. Sebab, semakin dekat pemimpin dengan warganya, semakin besar pula peluang berbagai persoalan di lingkungan dapat diketahui lebih cepat dan dicarikan solusi secara bersama-sama. (Bagdja)
