Dekenat Paniai Papua Tengah// secondnewsupdate.co.id – Momentum penjemputan Musyawarah Pastoral Semesta (Muspasme) Ke VIII di Kampung Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, dimaknai secara khidmat melalui tradisi budaya Mepago, Minggu (1/2/2026).
Nuansa kegiatan tampak seperti sebuah pentas budaya yang sarat makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal.
Ketua Panitia Lokal Stasi “Daida Eyagitaida”, Demian, saat dikonfirmasi media pada pukul 18.24 WIT, menjelaskan bahwa rangkaian penjemputan Muspasme VIII bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari upaya merajut kebersamaan umat dalam bingkai pastoral dan budaya.
“Kegiatan hari ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi sarana pelestarian budaya daerah, memperkuat gotong royong, serta mempererat persatuan umat dalam menyambut kegiatan pastoral Muspasme,” ungkap Demian.
Pentas Budaya Meriahkan Penjemputan
Ia menuturkan, penjemputan Muspasme VIII di Kampung Komopa dimeriahkan dengan berbagai bentuk seni dan kreativitas umat Katolik, seperti tarian tradisional, drama atau teater, yuu waita, serta tupe ugaa, yang dikolaborasikan dalam satu rangkaian pentas budaya khas Mepago.
Menurut Demian, tradisi tersebut kerap ditampilkan dalam perayaan hari-hari besar umat, termasuk pada momentum penting Muspasme Ke VIII yang digelar di wilayah Distrik Aradide.
“Muspasme Ke VIII di Kampung Komopa menjadi momen perayaan iman yang dimaknai melalui budaya lokal,” tandasnya.
Warisan Leluhur Budaya Mepago
Sementara itu, Degei, salah satu tokoh setempat, mengatakan bahwa penjemputan rombongan Dekenat Tigi, Moanemani, Moni, dan wilayah lainnya terasa seperti perayaan besar keagamaan dan kebudayaan yang menampilkan kekayaan warisan leluhur masyarakat Mepago.
Ia menyebutkan, berbagai penampilan seni tradisional seperti Koteka Mogee, Beba, Wayaa, Enapa, Kedego, Ukaa Mapega, hingga pertunjukan teatrikal menyerupai wayang tradisional, berhasil memukau ribuan penonton yang hadir.
“Antusiasme umat dan warga sekitar sangat tinggi. Pentas budaya ini menjadi bentuk apresiasi tertinggi terhadap identitas budaya Mepago,” jelas Degei.
Wadah Kreativitas Generasi Muda
Demian menambahkan, pentas seni budaya dalam rangka Muspasme VIII juga menjadi wadah kreativitas generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan budaya di tengah perkembangan zaman.
Selain itu, kegiatan ini sekaligus melatih bakat serta mental generasi muda untuk tampil di hadapan publik, khususnya di sekitar pusat kegiatan Muspasme Ke VIII Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekenat, Keuskupan Timika.
“Momen ini merupakan perpaduan antara edukasi, kegiatan pastoral, dan pelestarian budaya yang memvisualisasikan identitas serta filosofi budaya Meuwodide,” tutup Demian. (Jeri)
