Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Lingkungan HidupRagam Daerah

TPA Sarimukti Kian Kritis, Cimahi Dapat Perpanjangan Program ISWMP hingga 2027! Puluhan Armada Sampah Disiapkan

114
×

TPA Sarimukti Kian Kritis, Cimahi Dapat Perpanjangan Program ISWMP hingga 2027! Puluhan Armada Sampah Disiapkan

Sebarkan artikel ini
Wakil Walikota Cimahi Adhitia Yudisthira, secara simbolis menyerahkan tempat sampah terpilah kepada warga Cimahi

Cimahi, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Ancaman krisis sampah yang membayangi Kota Cimahi membutuhkan langkah nyata dan terobosan berkelanjutan. 

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi justru mendapatkan peluang memperkuat sistem pengelolaan sampah melalui perpanjangan program Integrated Solid Waste Management Project (ISWMP) hingga 2027.

Example 300x600

Cimahi menjadi salah satu dari 15 kabupaten/kota di Indonesia yang menerima dukungan program tersebut. 

Perpanjangan ini diharapkan menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Cimahi untuk membenahi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA Sarimukti yang kapasitasnya semakin terbatas.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, mengungkapkan bahwa dukungan melalui program ISWMP tidak hanya berfokus pada penguatan sistem pengolahan sampah, tetapi juga mencakup bantuan armada operasional untuk menunjang pelayanan kebersihan di wilayah perkotaan.

“Semoga menjadi keberkahan bagi warga Kota Cimahi dan Pemkot Cimahi karena mendapatkan perhatian khusus serta bantuan dari pemerintah pusat melalui program ISWMP,” ujar Adhitia, Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, bantuan armada tersebut akan disalurkan secara bertahap. Pemerintah Kota Cimahi direncanakan memperoleh 34 unit kendaraan roda tiga jenis Tosa, 67 unit mobil pikap, serta lima unit mobil kompaktor.

Penambahan armada ini diharapkan dapat memperkuat proses pengangkutan dan penanganan sampah, terutama di titik-titik yang membutuhkan pelayanan lebih optimal. 

Dengan dukungan sarana tersebut, distribusi sampah menuju fasilitas pengolahan diharapkan semakin tertata dan beban pengelolaan yang selama ini bertumpu pada TPA dapat ditekan.

100 Ton Sampah per Hari, Sarimukti Menghadapi Tekanan Kapasitas

Persoalan sampah di Cimahi bukan perkara ringan. Setiap hari, sekitar 95 hingga 100 ton sampah dari kota tersebut dibuang ke TPA Sarimukti. Volume tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika daya tampung fasilitas pembuangan regional itu terus menghadapi tekanan.

Menurut Adhitia, kapasitas TPA Sarimukti diproyeksikan berada dalam kondisi sangat kritis menjelang akhir 2026. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk tidak lagi hanya mengandalkan pola pengumpulan dan pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan akhir.

Jika tidak diantisipasi melalui pembenahan sistem secara menyeluruh, keterbatasan daya tampung berpotensi semakin menyulitkan pelayanan persampahan. 

Karena itu, pengurangan sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu langkah yang perlu diperkuat secara konsisten.

“Jumlah timbulan sampah yang dibuang setiap harinya mencapai 95–100 ton. Di sisi lain, kapasitas TPA tersebut semakin padat dan kritis, bahkan diproyeksikan akan penuh pada akhir Oktober hingga Desember 2026,” ungkapnya.

TPST Sentiong Jadi Bagian Strategi Pengurangan Sampah

Selain mengandalkan dukungan armada, Pemkot Cimahi juga mendorong pengembangan fasilitas pengolahan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengubah pendekatan penanganan sampah agar tidak semata-mata berakhir di TPA.

Melalui kolaborasi dalam program ISWMP yang melibatkan Bank Dunia (World Bank), Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Dalam Negeri, Pemkot Cimahi berupaya memperkuat infrastruktur serta tata kelola persampahan.

Kehadiran TPST Sentiong diharapkan dapat mendukung proses pengolahan sampah secara lebih terarah, termasuk membuka ruang bagi pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang material yang masih memiliki nilai guna.

Dengan demikian, penanganan sampah tidak hanya berorientasi pada memindahkan timbulan sampah dari permukiman ke tempat pembuangan, tetapi juga mengurangi jumlah sampah yang benar-benar harus dibuang ke TPA.

Dari Kumpul-Angkut-Buang Menuju Kumpul-Pilah-Daur Ulang

Adhitia menegaskan, Pemkot Cimahi terus mengupayakan berbagai langkah untuk menjawab persoalan persampahan. 

Salah satunya melalui program Sapu Jagat yang sebelumnya telah dilaksanakan, disertai penguatan kapasitas masyarakat melalui kegiatan pelatihan pengelolaan sampah.

Menurutnya, keberhasilan pembenahan sistem persampahan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan kendaraan atau pembangunan fasilitas.

Perubahan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah juga menjadi faktor penting yang menentukan hasil di lapangan.

Sampah rumah tangga, misalnya, perlu mulai dipilah sejak dari sumbernya. 

Material yang masih dapat dimanfaatkan harus dipisahkan dari sampah residu agar proses pengolahan menjadi lebih efektif.

Kebiasaan tersebut juga berpotensi mengurangi volume sampah yang harus diangkut dan dibuang ke TPA.

Karena itu, pelatihan pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengetahuan yang diperoleh peserta perlu diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Sebarkan ilmu yang Bapak Ibu peroleh dari pelatihan hari ini. Semuanya adalah demi kebaikan kita bersama. Sebab, kota yang resik dan bersih akan menciptakan masyarakat yang sehat dan hepi,” tutur Adhitia.

Kolaborasi dan Partisipasi Warga Jadi Penentu

Perpanjangan program ISWMP hingga 2027 memberikan kesempatan bagi Cimahi untuk memperkuat penanganan sampah secara bertahap. 

Namun, keberhasilan program tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh kesinambungan pelaksanaan, kesiapan sarana, efektivitas fasilitas pengolahan, serta keterlibatan masyarakat.

Bantuan 106 unit kendaraan yang direncanakan terdiri atas Tosa, pikap, dan mobil kompaktor menjadi dukungan operasional yang perlu dioptimalkan sesuai kebutuhan pelayanan. Sementara itu, pengembangan TPST dan perubahan pola pengelolaan sampah harus berjalan beriringan agar dampaknya terhadap pengurangan beban TPA dapat dirasakan secara nyata.

Tantangan Cimahi ke depan bukan sekadar mengangkut puluhan ton sampah setiap hari, melainkan membangun sistem yang mampu mengurangi timbulan, meningkatkan pemilahan, serta memperluas pemanfaatan sampah yang masih bernilai ekonomis.

Di tengah keterbatasan daya tampung Sarimukti, langkah menuju pengelolaan sampah yang lebih terpadu menjadi kebutuhan mendesak. 

Kolaborasi pemerintah, dukungan pemerintah pusat, dan kedisiplinan warga diharapkan dapat menjadi fondasi bagi terwujudnya Kota Cimahi yang bersih, sehat, tertata, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.(Bagdja)

Penulis: Bagdja SukmanaEditor: Sinta Sukmana
Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600