Cimahi, Jabar | secondnewsupdate.co.id — Pembangunan Underpass Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Kota Cimahi memasuki babak menarik. Di tengah geliat pembangunan infrastruktur yang ditargetkan rampung akhir Desember 2026, jejak sejarah masa kolonial justru ikut menjadi perhatian.
Salah satu bangunan yang terdampak langsung proyek tersebut adalah gardu listrik peninggalan zaman Belanda yang telah ditetapkan sebagai bagian dari kawasan cagar budaya.
Bangunan tua itu berada di area yang bersinggungan dengan proyek Underpass Gatsu, namun Pemerintah Kota Cimahi memastikan warisan sejarah tersebut tidak akan dihilangkan.
Alih-alih membongkar bangunan, Pemkot Cimahi memilih solusi teknis dengan menggeser atau memindahkan gardu listrik tersebut ke posisi yang lebih memungkinkan, sehingga pembangunan infrastruktur tetap berjalan tanpa mengorbankan keberadaan bangunan bersejarah.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menegaskan, pembangunan Underpass Gatot Subroto tidak serta-merta menghapus peninggalan sejarah yang berada di kawasan proyek.
Menurutnya, dari sejumlah elemen heritage yang berada di sekitar lokasi, bangunan gardu listrik menjadi bagian yang paling terdampak.
Sementara sejumlah pohon besar peninggalan zaman Belanda tetap dipertahankan lantaran mempunyai nilai sejarah tersendiri.
“Dampak pembangunan underpass terhadap bangunan heritage hanya kena di gardu listrik saja. Pohon-pohon besar peninggalan zaman Belanda juga tidak ditebang karena memiliki nilai sejarah,” ujar Ngatiyana, Jumat (18/9/2026).
Gardu Listrik Kolonial Tak Dibongkar
Keputusan mempertahankan gardu listrik tersebut menjadi perhatian tersendiri. Sebab, pembangunan infrastruktur kerap berhadapan dengan keberadaan bangunan lama yang berada di jalur proyek.
Namun, Pemkot Cimahi memilih pendekatan berbeda. Bangunan cagar budaya itu akan ditangani dengan metode pemindahan atau penggeseran, bukan penghancuran.
Langkah tersebut dilakukan agar fungsi kawasan dapat dikembangkan melalui pembangunan Underpass Gatsu, sementara karakter dan bentuk bangunan bersejarah tetap dipertahankan.
“Gardu yang merupakan cagar budaya tidak dirusak, tapi kita alihkan atau kita geser tempatnya. Sehingga tidak mengurangi bentuk dari cagar budaya tersebut,” kata Ngatiyana.
Kebijakan tersebut sekaligus memperlihatkan adanya upaya menyeimbangkan kebutuhan pembangunan transportasi dengan perlindungan terhadap warisan sejarah Kota Cimahi.
74 Bibit Pohon Ditanam, Pembangunan Tak Hanya Kejar Infrastruktur
Tak hanya persoalan bangunan heritage, dampak lingkungan dari pembangunan Underpass Gatot Subroto juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Cimahi bersama Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat.
Sebagai bagian dari kompensasi lingkungan, sebanyak 74 bibit pohon telah ditanam. Penanaman dilakukan di kawasan lingkungan Masjid ABRI dan selanjutnya direncanakan berlanjut di kawasan Ekowisata Lebaksaat.
Beragam jenis pohon disiapkan dalam program tersebut, antara lain mahoni, trembesi, dan durian.
Penanaman kembali ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu mengembalikan ruang hijau yang terdampak proyek sekaligus memperkuat kualitas lingkungan di sekitar kawasan pembangunan.
“Penanaman pohon salah satunya sebagai komitmen pengganti kompensasi pohon terdampak yang harus kita tanam kembali. Alhamdulillah bermacam-macam pohon, ada mahoni, ada trembesi, ada juga durian yang cepat berbuahnya. Nah, ini sebagai penggantinya, mudah-mudahan berhasil dan area ini bisa menghijau kembali,” ungkap Ngatiyana.
Underpass Gatsu Ditargetkan Rampung Desember 2026
Di sisi lain, pengerjaan Underpass Jalan Gatot Subroto terus dikebut. Proyek strategis tersebut merupakan program bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengingat Jalan Gatot Subroto berstatus sebagai jalan provinsi.
Pemerintah Kota Cimahi berada pada posisi sebagai penerima manfaat pembangunan.
Karena itu, Pemkot Cimahi turut mendorong agar proses pengerjaan berjalan lancar dan memberikan manfaat terhadap masyarakat.
Target penyelesaian proyek ditetapkan pada akhir Desember 2026. Apabila waktu pengerjaan membutuhkan percepatan, pekerjaan dapat dilakukan secara lebih intensif, termasuk memanfaatkan waktu malam hari.
“Pembangunan underpass ini merupakan program Provinsi Jawa Barat karena Jalan Gatot Subroto berstatus jalan provinsi. Pemkot Cimahi selaku penerima manfaat dari bantuan Bapak Gubernur, makanya kita jaga dan ikut sukseskan untuk kepentingan bersama. Target akhir Desember selesai, kalau kurang waktunya malam hari bisa terus dikerjakan secara intensif,” pungkasnya.
Pembangunan Underpass Gatsu pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai kelancaran arus lalu lintas.
Di balik proyek tersebut terdapat pekerjaan rumah yang tak kalah penting, yakni bagaimana wajah baru Kota Cimahi dapat dibangun tanpa memutus jejak sejarah yang telah melekat selama puluhan tahun.
Gardu listrik peninggalan Belanda dan pepohonan tua di kawasan tersebut menjadi pengingat bahwa modernisasi kota tidak selalu harus menghapus masa lalu.
Dengan penanganan yang tepat, pembangunan infrastruktur dan pelestarian heritage masih dapat berjalan beriringan. (Bagdja)
















