Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Kota Cimahi terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana melalui program Sekolah/Madrasah Aman Bencana (SMAB) 2026.
Program yang menjadi agenda rutin tahunan itu kali ini dipusatkan di SMP Negeri 4 Kota Cimahi dengan melibatkan 1.580 peserta yang terdiri dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan, mengingat Kota Cimahi termasuk wilayah yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap berbagai potensi bencana alam.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjadi pusat edukasi mitigasi bencana sejak dini. Menurutnya, pemahaman terkait kesiapsiagaan harus ditanamkan kepada pelajar agar mampu menghadapi situasi darurat secara cepat dan tepat.
“Melalui program Sekolah/Madrasah Aman Bencana ini, kami berharap seluruh peserta dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan semangat kewaspadaan dan mitigasi bencana di lingkungan masing-masing,” ujar Ngatiyana saat penutupan kegiatan SMAB 2026.
Ia menjelaskan, ancaman bencana di Kota Cimahi tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain berada di kawasan yang terdampak aktivitas Sesar Lembang yang berpotensi memicu gempa bumi, wilayah tersebut juga kerap menghadapi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem seperti banjir dan tanah longsor.
Data Pemerintah Kota Cimahi mencatat, sejak Januari hingga April 2026 sudah terjadi 48 kejadian bencana di berbagai wilayah.
Rangkaian peristiwa tersebut meliputi banjir, longsor, hingga cuaca ekstrem yang menyebabkan kerusakan rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur.
Ngatiyana menilai kondisi itu harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan, edukasi kebencanaan bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan membangun kesiapan menghadapi kondisi darurat.
“Kesiapan menjadi faktor penting. Ketika masyarakat memahami mitigasi dan evakuasi mandiri, maka risiko korban jiwa bisa ditekan seminimal mungkin,” katanya.
Dalam program SMAB 2026, peserta dibekali berbagai materi mulai dari prosedur penyelamatan diri, pemetaan jalur evakuasi, simulasi penanganan keadaan darurat, hingga pembentukan budaya tanggap bencana di lingkungan sekolah.
Program tersebut juga difokuskan pada penguatan tiga pilar utama sekolah aman bencana, yakni penyediaan fasilitas sekolah yang aman, manajemen penanggulangan bencana di lingkungan pendidikan, serta pendidikan pengurangan risiko bencana bagi seluruh warga sekolah.
Pemerintah Kota Cimahi berharap program ini tidak berhenti di satu sekolah saja. Ke depan, edukasi mitigasi bencana akan diperluas ke sekolah-sekolah lain agar kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana semakin meningkat.
Ngatiyana pun mengapresiasi keterlibatan BPBD Kota Cimahi dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Keamanan dan keselamatan harus menjadi prioritas utama. Karena itu, edukasi mitigasi bencana harus terus diinternalisasi secara luas, terutama kepada generasi muda,” tandasnya. (Bagdja)
















