Garut, Jabar l secondnewsupdate.co.id – Banjir kembali menerjang kawasan Pasar Kaler, Desa Balewangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sekitar pukul 16.00 WIB. Senin (26/10/2026).
Peristiwa yang kembali meresahkan warga ini memunculkan sorotan terhadap kondisi drainase yang dinilai semakin sempit serta keberadaan bangunan di atas saluran air yang dikhawatirkan menghambat kelancaran aliran.
Warga berharap persoalan tersebut segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
Pasalnya, banjir di kawasan itu bukan kali pertama terjadi. Bahkan, pada November tahun lalu, genangan air dilaporkan pernah masuk ke rumah warga dengan ketinggian mencapai dada orang dewasa.
Berdasarkan keterangan warga setempat, banjir yang terjadi kali ini diduga berkaitan dengan kiriman sampah dan material bambu dari arah Karamatwangi.
Material yang terbawa arus tersebut berpotensi menyumbat saluran, terlebih ketika kapasitas drainase dinilai tidak lagi memadai untuk menampung debit air saat hujan turun.
“Bulan November tahun lalu banjirnya paling besar. Air sampai masuk ke rumah saya dan tingginya mencapai dada,” ungkap seorang warga bernama Aprilia.
Pengalaman tersebut membuat masyarakat khawatir banjir serupa kembali terjadi, terutama apabila hambatan pada saluran air tidak segera ditangani.
Warga menilai, selain membersihkan sampah dan potongan bambu, kondisi fisik drainase juga perlu diperiksa secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab aliran air tidak berjalan optimal.
Bangunan di Atas Drainase Jadi Sorotan
Selain persoalan sampah dan material bambu, keberadaan bangunan di atas saluran air turut menjadi perhatian masyarakat.
Aprilia mengkhawatirkan bangunan tersebut berpotensi mempersempit jalur aliran dan menyulitkan proses pemeliharaan maupun pembersihan drainase.
Menurut keterangan Aprilia, persoalan banjir dan kondisi saluran air sebelumnya telah disampaikan melalui media sosial hingga menjadi perhatian publik.
Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, disebut pernah meninjau langsung lokasi untuk melihat kondisi yang dikeluhkan masyarakat.
Meski demikian, Aprilia menyebut persoalan bangunan di atas saluran air masih menjadi perhatian mereka.
Salah seorang warga juga menyinggung bangunan pos ronda yang merupakan fasilitas umum dan telah dibongkar, sementara bangunan lain yang dikeluhkan karena berada di atas saluran air disebut masih berdiri.
Kondisi tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan oleh instansi berwenang. Penilaian teknis diperlukan untuk memastikan apakah terdapat penyempitan saluran, hambatan aliran, atau faktor lain yang berkontribusi terhadap terjadinya banjir.
Warga Minta Penanganan Menyeluruh
Warga berharap pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Garut, serta dinas terkait tidak hanya melakukan pembersihan saat banjir terjadi, tetapi juga mengevaluasi penyebab banjir secara menyeluruh.
Langkah yang diharapkan antara lain pemeriksaan kondisi dan kapasitas drainase, penelusuran titik-titik yang berpotensi mengalami penyempitan, pembersihan sampah serta material bambu, dan evaluasi bangunan yang berada di atas saluran air sesuai ketentuan yang berlaku.
Penanganan secara terpadu dinilai penting agar persoalan banjir tidak terus berulang dan masyarakat tidak kembali menghadapi risiko air masuk ke rumah mereka.
Bagi warga Pasar Kaler, kejadian banjir kali ini menjadi pengingat bahwa persoalan saluran air membutuhkan perhatian berkelanjutan. Mereka berharap adanya langkah konkret berdasarkan hasil pemeriksaan teknis, sehingga penanganan tidak sebatas merespons genangan, tetapi juga menyasar faktor-faktor yang diduga menjadi penyebabnya.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti banjir serta kondisi teknis drainase di kawasan tersebut masih memerlukan verifikasi dari pihak berwenang.
Konfirmasi dari Pemerintah Desa Balewangi dan instansi terkait juga diperlukan untuk memperoleh penjelasan berimbang mengenai kondisi saluran air, keberadaan bangunan yang disoroti warga, serta rencana penanganan ke depan. (Asan)
















