Jabar Garut/ secondnewsupdate.co.id – Pemerintah Kabupaten Garut terus memperkuat upaya percepatan penurunan angka stunting melalui edukasi pola konsumsi pangan sehat.
Salah satunya dilakukan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Garut dengan menggencarkan Gerakan Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) di enam desa di Kecamatan Banjarwangi.
Program edukasi tersebut digelar dalam kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Aula Desa Kadongdong, Kecamatan Banjarwangi, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan ini dihadiri Subkoordinator Promosi Pangan DKP Kabupaten Garut Lina Zaenab, Kepala UPT Puskesmas Banjarwangi Mahmud, Kepala Desa Kadongdong Maoluddin Lapit, serta diikuti ratusan warga yang mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi pangan lokal bergizi untuk mencegah stunting.
Subkoordinator Promosi Pangan DKP Kabupaten Garut Lina, menegaskan bahwa Gerakan B2SA merupakan langkah nyata pemerintah dalam membangun kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan sehat, bukan sekadar kegiatan sosialisasi semata.
Menurutnya, masyarakat diperkenalkan dengan berbagai contoh menu berbahan pangan lokal yang memenuhi prinsip Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui edukasi ini kami ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa pencegahan stunting bisa dimulai dari pola makan keluarga. Kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi menjadi investasi penting bagi tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Lina menjelaskan, sepanjang tahun 2026 pelaksanaan Gerakan B2SA di Kecamatan Banjarwangi menyasar enam desa, yaitu Desa Bojong, Tanjungjaya, Wangunjaya, Talagajaya, Banjarwangi, dan Kadongdong.
Ia menambahkan, peran DKP lebih diarahkan pada upaya promotif dan preventif melalui peningkatan literasi pangan masyarakat.
Sementara penanganan stunting secara spesifik tetap dilakukan secara terpadu bersama Dinas Kesehatan, pemerintah desa, dan puskesmas.
“DKP berkontribusi melalui edukasi konsumsi pangan sehat. Penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif agar hasilnya lebih optimal,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Banjarwangi, Mahmud, menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurutnya, pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita, pemberian ASI eksklusif, MPASI yang tepat, pemantauan pertumbuhan anak, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan faktor penting untuk mencegah stunting.
Ia juga mengajak masyarakat agar rutin memanfaatkan layanan posyandu dan puskesmas untuk memantau kesehatan ibu hamil maupun balita, sehingga potensi gangguan pertumbuhan dapat dideteksi sejak dini.
Melalui Gerakan B2SA, DKP Kabupaten Garut bersama UPT Puskesmas Banjarwangi berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi pangan lokal bergizi terus meningkat.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat penurunan prevalensi stunting sekaligus melahirkan generasi Garut yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (Asan)
