Bandung/ secondnewsupdate.co.id – Perayaan 9th Anniversary MC.BDG Nawawarna yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus baru berlangsung meriah di Gedung Pusat Kebudayaan Kota Bandung.
Kegiatan ini dihadiri ratusan Master of Ceremony (MC) profesional dari Bandung Raya dan menjadi momentum penting dalam memperkuat eksistensi profesi MC sebagai bagian dari industri komunikasi, kreatif, dan hiburan di Jawa Barat.
MC.BDG merupakan komunitas profesi yang mewadahi para Master of Ceremony di wilayah Bandung Raya dengan mengusung slogan “Pride and Respect”.
Selama sembilan tahun perjalanannya, komunitas ini terus berkembang sebagai pusat pengembangan kompetensi, edukasi komunikasi publik, serta wadah memperluas jejaring profesional bagi para anggotanya.
Puncak acara ditandai dengan pelantikan pengurus baru periode 2026–2029 yang dipimpin Ketua terpilih, Yudhi Raven.
Ketua Panitia, Sarah Ayu, menjelaskan bahwa proses pemilihan ketua dilakukan secara terbuka dan demokratis dengan melibatkan seluruh anggota komunitas.
“Kami membentuk tim ad hoc untuk melakukan penjaringan calon. Seluruh anggota diberikan kesempatan mengusulkan nama, dilanjutkan dengan penyampaian visi dan misi serta proses pemungutan suara berbasis database digital hingga akhirnya terpilih Ketua MC.BDG yang baru,” ujarnya.
Sarah menambahkan, saat ini MC.BDG memiliki sekitar 150 anggota aktif yang sebagian besar merupakan MC profesional dengan pengalaman di berbagai jenis acara, mulai dari kegiatan formal, korporasi, pemerintahan, hingga hiburan.
Perhatian peserta juga tertuju pada sambutan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap profesi MC sebagai elemen penting di balik kesuksesan sebuah acara.
Menurut Farhan, seorang MC mungkin bukan sosok utama yang ditunggu dalam sebuah kegiatan, namun memiliki peran sentral dalam memastikan seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik dan terarah.
“Dalam sebuah konser yang ditunggu orang adalah penyanyinya, bukan MC-nya. Dalam acara kenegaraan yang ditunggu pidato pemimpinnya, bukan MC-nya. Tapi semua orang yang akan tampil tidak akan pernah naik ke panggung kalau belum dipersilakan oleh MC. Di situlah peran penting seorang MC sebagai pengatur irama atau flow sebuah acara,” ujarnya.
Farhan menilai profesi MC membutuhkan kemampuan komunikasi yang kuat, kecerdasan membaca situasi, serta keterampilan mengendalikan dinamika acara secara profesional.
Ia juga menekankan bahwa perkembangan media digital menuntut seorang MC tidak hanya memiliki teknik vokal yang baik, tetapi juga karakter yang kuat, ekspresi yang autentik, serta kemampuan membangun kedekatan dengan audiens.
“Masyarakat sekarang tidak lagi hanya mencari suara yang bagus. Yang dicari adalah karakter, ekspresi, dan kejujuran. Itu yang membuat seseorang dipercaya dan dicintai audiens,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan turut berbagi pengalaman perjalanan kariernya di dunia radio sejak awal 1990-an.
Menurutnya, radio menjadi tempat terbaik untuk mempelajari teknik komunikasi, penguasaan suara, pengelolaan emosi, hingga kemampuan membangun hubungan dengan audiens.
“Jangan pernah meninggalkan ilmu radio. Dari sanalah kita belajar bagaimana mengatur suara, mengatur ritme, membangun komunikasi, dan memahami audiens,” tuturnya.
Lebih lanjut, Farhan menyoroti realitas profesi MC yang sebagian besar berstatus pekerja lepas (freelancer).
Ia menilai para MC pada dasarnya merupakan entrepreneur yang harus mampu mengelola karier, kesehatan, dan masa depan secara mandiri.
“Profesi MC adalah profesi yang luar biasa. Hari ini bekerja dan mendapatkan honor, besok belum tentu. Karena itu para MC harus memiliki kesiapan mental, profesionalisme, dan perlindungan sosial yang baik,” katanya.
Perayaan 9th Anniversary MC.BDG Nawawarna menjadi bukti bahwa profesi Master of Ceremony di Kota Bandung terus berkembang dan semakin mendapat tempat dalam industri komunikasi modern.
Dengan kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Yudhi Raven, komunitas ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak MC profesional yang adaptif, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan era digital yang terus berkembang. (Burhan)
















