Garut/secondnewsupdate.co.id – SMP IT Daarul Amiin Garut berhasil menuntaskan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan kuota peserta didik baru terpenuhi.
Tak hanya fokus pada penerimaan siswa, sekolah berbasis pesantren ini juga menghadirkan konsep Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berbeda dari sekolah pada umumnya, yakni berlangsung hingga tiga bulan untuk membentuk karakter santri sejak hari pertama.
Program tersebut menjadi salah satu ciri khas SMP IT Daarul Amiin yang berlokasi di Kampung Barusuda, Desa Barusuda, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut.
Selain mengenalkan lingkungan sekolah, peserta didik baru dibimbing secara intensif agar mampu beradaptasi dengan budaya pesantren, disiplin, dan memiliki akhlak yang kuat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP IT Daarul Amiin, Nur Fikri, mengungkapkan kuota penerimaan siswa baru tingkat SMP IT yang dibuka sebanyak 60 kursi telah terpenuhi sesuai target.
Secara keseluruhan, jumlah peserta didik baru di SMP IT dan SMA IT mencapai 98 orang, terdiri dari 53 siswa SMP IT dan 45 siswa SMA IT setelah dua calon siswa mengundurkan diri.
Ia menjelaskan, berbeda dengan sekolah negeri, proses penerimaan peserta didik di Daarul Amiin tidak menggunakan jalur domisili, afirmasi, prestasi maupun mutasi.
Seluruh calon siswa diterima melalui jalur umum sesuai mekanisme yang diterapkan sekolah.
Menurutnya, persiapan penerimaan peserta didik untuk tahun ajaran berikutnya bahkan telah dimulai lebih awal.
Pendaftaran biasanya dibuka setiap bulan Oktober sebagai upaya menjaring calon santri sejak dini.
Nur Fikri menuturkan, sepuluh hari pertama MPLS diisi dengan pengenalan budaya Daarul Amiin dan materi sesuai pedoman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, seperti Gerakan Pagi Ceria, pencegahan perundungan, etika bermedia sosial, hingga literasi digital.
Setelah masa tersebut, pembinaan karakter tetap berlanjut hingga tiga bulan di bawah pendampingan musyrif dan musyrifah. Selama periode itu, perkembangan sikap, kedisiplinan, dan kebiasaan santri terus dipantau sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Salah satu budaya yang ditanamkan adalah konsep Komiba, yaitu kebiasaan merapikan jika melihat sesuatu berantakan, mengeringkan apabila basah, membersihkan jika kotor, meluruskan bila miring, serta mengamankan benda yang berpotensi membahayakan.
Budaya sederhana ini diharapkan menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari para santri.
Tak hanya itu, peserta didik juga mendapatkan pembinaan tahsin Al-Qur’an menggunakan Metode Salawati, pembiasaan berbahasa, fikih ibadah, hingga pendidikan kepemimpinan yang menjadi identitas pendidikan di Daarul Amiin.
Pada tahun ajaran 2026/2027, seluruh materi MPLS juga disesuaikan dengan regulasi terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Karena itu, kegiatan di luar sekolah seperti wawasan kebangsaan yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Yonif 303 tidak lagi dimasukkan dalam rangkaian MPLS.
“Kami ingin peserta didik baru tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan budaya pesantren dan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, serta berkarakter kuat sejak awal mengikuti pendidikan di Daarul Amiin,” ujar Fikri.
Dengan konsep pembinaan yang berkelanjutan selama tiga bulan, SMP IT Daarul Amiin berharap mampu mencetak generasi santri yang unggul dalam akademik, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan zaman. (Asan).
















