Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInformatikaPolitikRagam Daerah

Petani Kampung Malang Siapkan RDKK Pupuk Subsidi 2027, Dorong Modernisasi Tanam Padi

710
×

Petani Kampung Malang Siapkan RDKK Pupuk Subsidi 2027, Dorong Modernisasi Tanam Padi

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 26 anggota Kelompok Tani Kampung Malang, Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, mengikuti rapat Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK/RTTK) untuk persiapan pengajuan pupuk bersubsidi tahun 2027.

Banten, Kabupaten Tangerang l secondnewsupdate.co.id — Sebanyak 26 anggota Kelompok Tani Kampung Malang, Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, mengikuti rapat Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) untuk persiapan pengajuan pupuk bersubsidi tahun 2027.

Rapat tersebut menjadi bagian penting dalam pendataan kebutuhan pupuk petani. 

Example 300x600

Setiap anggota kelompok menyampaikan luas lahan yang digarap dan jenis tanaman yang dibudidayakan sebagai dasar pengajuan kebutuhan pupuk subsidi kepada pemerintah.

Ketua Kelompok Tani Kampung Malang, Muhamad Obo, mengatakan pendataan luas lahan menjadi salah satu hal penting agar pupuk subsidi dapat disalurkan sesuai kebutuhan petani.

“Sebagai ketua kelompok tani Kampung Malang, hari ini kita melakukan rapat RDKK untuk tahun 2027 untuk penebusan pupuk subsidi. Jadi setiap petani berapa luas lahan yang mereka garap, itulah yang akan diajukan untuk tahun 2027 agar bisa mendapatkan pupuk subsidi dari pemerintah,” ujar Obo.

Menurutnya, Kelompok Tani Kampung Malang saat ini memiliki sekitar 26 anggota yang terdiri dari petani padi dan petani sayur-mayur.

Dari jumlah tersebut, lahan yang masih digunakan untuk tanaman padi mencapai lebih dari 20 hektare.

“Anggota kelompok tani Kampung Malang ada sekitar 26 orang. Ada petani padi, ada juga petani sayur-mayur. Paling banyak petani padi, hampir sekitar 20 hektare lebih,” katanya.

Namun, Obo mengungkapkan luas lahan pertanian sayuran di wilayah tersebut terus mengalami penyusutan akibat berkembangnya pembangunan perumahan.

Di tengah kondisi tersebut, Kelompok Tani Kampung Malang bersama penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang juga melakukan sosialisasi program PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agriculture System).

Program tersebut mendorong penerapan teknik budidaya padi modern berbasis teknologi dan efisiensi dalam proses produksi pertanian.

Obo menilai penerapan teknik tersebut berpotensi mengurangi biaya operasional petani, khususnya pada proses pencabutan bibit dan penanaman.

“Program ini merupakan teknik penanaman padi dengan cara modern. Tidak memakai biaya cabut dan tandur, sehingga ada efisiensi bagi petani. Biasanya kita membayar tenaga untuk mencabut dan menanam, dengan teknik modern ini biaya tersebut bisa ditekan,” jelasnya.

Bidik Produktivitas hingga 10 Ton per Hektare

Kelompok Tani Kampung Malang menyatakan tertarik mencoba metode penanaman padi modern tersebut. 

Obo bahkan mengaku pernah melihat langsung penerapannya ketika mengikuti kegiatan Pekan Nasional (Penas) di Gorontalo.

Pengalaman tersebut kemudian dibawa untuk diperkenalkan kepada anggota kelompok tani di Kampung Malang.

“Teknik penanaman padi modern ini hasilnya bisa mencapai 10 ton per hektare. Selama ini kita menanam secara biasa, hasilnya sekitar 4 sampai 5 ton per hektare,” ungkap Obo.

Meski demikian, rencana penerapan metode tersebut masih menunggu ketersediaan air untuk memasuki musim tanam berikutnya.

“Musim tanam padi di Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, insyaallah kita menunggu air. Saat air mencukupi, kita secepatnya akan tanam karena di sini sudah selesai panen semua,” tuturnya.

Obo mengatakan para anggota kelompok tani sudah sepakat dan menunjukkan ketertarikan untuk mencoba metode penanaman modern tersebut.

Menurutnya, keberhasilan program pertanian modern tidak hanya bergantung pada petani, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama terkait pengairan dan infrastruktur pertanian.

“Ketika program ini sudah berjalan, semua elemen harus mendukung, mulai dari irigasi, petaninya dan segala hal yang berkaitan dengan pertanian,” katanya.

Kelompok Tani Berharap Lahan Pertanian Dilindungi

Selain persoalan pupuk dan peningkatan produktivitas, Obo juga menyoroti semakin menyempitnya lahan pertanian akibat pembangunan perumahan.

Ia berharap pemerintah desa dan pihak terkait konsisten menjaga lahan yang masuk dalam kawasan pertanian atau zona hijau agar tidak mudah dialihfungsikan.

“Kalau memang itu zona hijau, tolong jangan dipermudah developer mendirikan rumah. Gunakan prosedur yang ada. Sawah dan lahan yang dilindungi sebagai zona hijau jangan sampai berubah menjadi perumahan,” tegasnya.

Menurut Obo, perlindungan lahan pertanian menjadi semakin penting di tengah upaya pemerintah meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Ia menyebut para petani di Kelompok Tani Kampung Malang tetap berkomitmen menjalankan kegiatan pertanian meski menghadapi keterbatasan lahan.

Obo juga mengungkapkan kelompok taninya selama ini belum pernah dilibatkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa. 

Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka berhenti memperjuangkan kepentingan petani.

“Kita tidak berputus asa. Kita selalu kompak dan tetap berjalan agar petani sejahtera,” ujarnya.

Ia berharap para petani tetap semangat menggarap lahan yang tersisa serta mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah.

“Harapan saya para petani tetap semangat, walaupun lahan sekarang sudah mulai sempit. Saya berharap pemerintah terus memperhatikan petani,” pungkas Obo. (Dia)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600