Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BudayaEntertainmentGaya hidupInternasionalRagam DaerahWisata

Wastra Bali Naik Kelas! Putri Koster Gaspol Cari Desainer Muda, Endek Dibidik Tembus Pasar Dunia

214
×

Wastra Bali Naik Kelas! Putri Koster Gaspol Cari Desainer Muda, Endek Dibidik Tembus Pasar Dunia

Sebarkan artikel ini
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Koster.

Bali, Bangli l secondnewsupdate.co.id – Kain tradisional Bali kembali mendapat panggung istimewa. Bukan sekadar dipamerkan sebagai warisan budaya, wastra Bali kini terus didorong untuk menjelma menjadi kekuatan industri fashion yang mampu menjangkau pasar lebih luas, bahkan berpeluang menembus panggung internasional.

Semangat tersebut terlihat dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hitakara” yang digelar di Alun-Alun Kota Bangli, Kamis (10/9/2026). Kemarin.

Example 300x600

Sebanyak tujuh desainer muda Bali menampilkan karya mereka dengan melibatkan 30 model dalam sebuah peragaan yang memadukan kekayaan tradisi, kreativitas desain, dan perkembangan fesyen modern.

Kegiatan ini mendapat pengawalan langsung Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Koster. 

Ia menegaskan, pengembangan fashion berbasis wastra bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga menyangkut keberlangsungan perajin, regenerasi pelaku industri kreatif, sekaligus upaya menjaga identitas budaya Bali.

Menurut Putri, keberadaan kain endek menghadapi tantangan serius ketika penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari semakin terbatas. 

Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap keberlangsungan para perajin yang selama ini menjadi penjaga tradisi tenun Bali.

Karena itu, kain endek dinilai perlu diperkenalkan dengan pendekatan yang lebih kreatif. Tidak berhenti sebagai kain tradisional, endek harus diolah menjadi busana yang modern, menarik, nyaman digunakan, sekaligus tetap mempertahankan karakter budaya yang melekat di dalamnya.

“Perajin kain endek kita semakin sedikit dan tergerus karena minimnya masyarakat Bali yang memilih endek sebagai bahan sandang,” ujar Putri. Minggu (13/9/2026).

Ia menjelaskan, Dekranasda Bali memilih menggandeng berbagai elemen industri fashion, mulai dari desainer, model, penjahit, koreografer hingga komposer.

Kolaborasi tersebut diharapkan menciptakan ekosistem kreatif yang saling menguatkan dari proses produksi kain hingga menjadi produk fesyen bernilai ekonomi.

Bukan Sekadar Fashion Show

Road show “Wastra Hitakara” juga memiliki misi yang lebih besar. Setiap kabupaten/kota yang menjadi lokasi kegiatan diharapkan dapat menjadi ruang pencarian talenta baru di bidang fashion.

Putri ingin muncul desainer-desainer lokal yang berani mengeksplorasi kekayaan wastra daerahnya masing-masing. Dengan demikian, perkembangan fesyen Bali tidak hanya berpusat di satu wilayah, tetapi tumbuh secara merata dari kabupaten dan kota.

“Saya berharap kegiatan ini dapat memunculkan desainer lokal dari setiap kabupaten yang kami kunjungi,” katanya.

Menurutnya, setiap daerah di Bali memiliki kekayaan wastra dengan karakter tersendiri. Motif, teknik pembuatan hingga filosofi yang terkandung di dalamnya menjadi modal besar untuk dikembangkan menjadi produk fesyen modern tanpa menghilangkan akar budayanya.

Salah satu kekayaan tersebut adalah kain geringsing. Secara filosofi, istilah tersebut terdiri dari kata “gering” yang berarti sakit dan “sing” yang berarti tidak. Makna tersebut menggambarkan harapan terhadap kesehatan dan keselamatan.

Nilai filosofis semacam itu, menurut Putri, justru menjadi keunggulan wastra Bali. Sebab, kain tradisional tidak hanya menawarkan keindahan motif, tetapi juga membawa cerita, nilai kehidupan, dan identitas masyarakat yang melahirkannya.

Endek Bali Pernah Dilirik Dior

Potensi wastra Bali untuk bersaing di dunia internasional bukan sekadar wacana.

Putri Koster mengungkapkan bahwa pada periode sebelumnya terdapat enam motif kain endek Bali yang dipilih oleh rumah mode Dior untuk digunakan dalam koleksinya.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa karya perajin Bali memiliki daya tarik yang mampu mendapat perhatian industri fesyen dunia.

Momentum itu sekaligus menjadi dorongan agar para perajin tidak berhenti menenun. Regenerasi menjadi kata kunci agar keterampilan tradisional tersebut tidak terputus oleh perubahan zaman.

Di sisi lain, desainer muda Bali juga ditantang untuk terus melakukan inovasi. Wastra tradisional diharapkan tidak hanya tampil dalam acara seremonial atau panggung peragaan busana, tetapi dapat menjadi bagian dari pakaian sehari-hari yang modern dan memiliki nilai jual.

“Para desainer muda Bali agar terus berkreasi dan berinovasi menghasilkan busana untuk ditampilkan di atas panggung, sekaligus menjadi rekomendasi pakaian yang dapat digunakan pada hari kerja,” tutur Putri Koster.

Tiga Program Besar Dekranasda Bali

Penguatan industri fesyen berbasis wastra tersebut dilakukan melalui tiga program utama Dekranasda Provinsi Bali.

Pertama, Dekranasda Bali Fashion Day yang melibatkan perangkat daerah dan digelar setiap bulan. Kedua, Dekranasda Bali Fashion Week yang direncanakan berlangsung setiap akhir tahun.

Ketiga, Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hitakara” yang bergerak dari satu kabupaten/kota ke daerah lainnya.

Ketiga program tersebut dirancang agar terjadi kesinambungan antara kreativitas, promosi, produksi, hingga pemasaran.

Dengan pola tersebut, karya desainer dan perajin diharapkan tidak hanya berakhir di atas catwalk. Produk yang lahir dari kreativitas tersebut juga diarahkan masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk melalui ruang digital.

Tujuh Desainer Muda Unjuk Karya di Bangli

Dalam pelaksanaan “Wastra Hitakara” di Bangli, tujuh desainer muda mendapat kesempatan menampilkan karya mereka.

Mereka adalah A Tiga by Turah Mayun, Taksu Design by Adhi Taksu, Agung Bali Collection by Agung Indira, Limas Boutique by Yenni Limas, Deluxe Design by Dayu Dian, Ipong Design by Ipong, serta Body & Mind Bali by Dayu Karang.

Sebanyak 30 model membawakan koleksi yang ditampilkan dalam suasana peragaan busana yang mengangkat kekayaan budaya Bali.

Salah satu karya yang tampil antara lain mengangkat payas agung Kabupaten Karangasem, payas ningrat Kabupaten Buleleng, serta payas agung Kota Denpasar.

Ketua Dekranasda Kabupaten Bangli, Sariasih Sedana Arta, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Bangli memiliki kekayaan wastra dan kerajinan dengan karakter khas yang berpotensi terus dikembangkan.

Ia menilai inovasi menjadi kebutuhan penting bagi pelaku UMKM dan IKM agar mampu mengikuti selera pasar tanpa kehilangan identitas daerah.

Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan mampu mempertemukan para pelaku kreatif dengan konsumen secara langsung. Sejumlah busana yang diperagakan bahkan dapat dipilih dan dibeli oleh para undangan.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya memperpendek jarak antara kreativitas desainer, produksi perajin, dan pasar.

Menjaga Budaya, Menggerakkan Ekonomi

Pengembangan wastra Bali pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kain dan busana. Di balik setiap lembar kain terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari perajin, penjahit, desainer, model, pelaku UMKM hingga sektor pemasaran.

Karena itu, semakin luas penggunaan wastra Bali, semakin besar pula peluang ekonomi yang dapat tercipta bagi masyarakat.

Putri menegaskan Bali tidak hanya memiliki kekuatan sebagai destinasi wisata. Pulau Dewata juga memiliki sumber daya kreatif yang lahir dari tradisi, seni, budaya dan keterampilan masyarakatnya. Wastra menjadi salah satu kekuatan tersebut.

Melalui “Wastra Hitakara”, kain tradisional Bali didorong untuk tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup melalui kreativitas generasi baru.

Jika langkah tersebut konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin kain endek dan berbagai wastra Bali lainnya semakin dikenal di pasar nasional hingga dunia, sekaligus menjadi sumber penghidupan baru bagi para perajin dan pelaku industri kreatif. (Mahesa)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600