Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
EkonomiGaya hidupInformatikaRagam DaerahTeknologi

Sulap Sampah Plastik Jadi BBM, Bank Sampah di Cimahi Produksi ‘Petasol’ untuk Petani hingga Nelayan

802
×

Sulap Sampah Plastik Jadi BBM, Bank Sampah di Cimahi Produksi ‘Petasol’ untuk Petani hingga Nelayan

Sebarkan artikel ini
Salah satu pendiri BSSI Melong 26, Lionardo Sutandi, mengatakan inovasi ini lahir dari keresahan mereka melihat persoalan sampah plastik yang terus menumpuk namun sulit didaur ulang karena minim nilai jual.

Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Tumpukan sampah plastik yang selama ini dianggap tak bernilai, ternyata bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif ramah guna. 

Inovasi itu dikembangkan oleh Bank Sumberdaya Sampah Induk (BSSI) Melong 26, Kota Cimahi, melalui teknologi pirolisis yang mampu mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar alternatif bernama Petasol.

Example 300x600

Di fasilitas pengolahan milik BSSI Melong 26, sampah plastik kategori low value atau bernilai ekonomi rendah lebih dulu melalui proses pencacahan sebelum dimasukkan ke mesin pirolisis Fastpol. 

Dalam mesin tersebut, plastik dipanaskan pada suhu tinggi tanpa oksigen hingga menghasilkan cairan bahan bakar menyerupai solar.

Proses produksi ini memakan waktu sekitar delapan jam dalam satu siklus pengolahan. Dari limbah yang semula sulit dimanfaatkan, hasil akhirnya berupa BBM alternatif yang disebut memiliki kualitas tinggi dan siap digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Salah satu pendiri BSSI Melong 26, Lionardo Sutandi, mengatakan inovasi ini lahir dari keresahan mereka melihat persoalan sampah plastik yang terus menumpuk namun sulit didaur ulang karena minim nilai jual.

“Plastik low value ini biasanya berakhir dibakar atau dibuang. Kami melihat ada masalah besar di sana, lalu mencoba mencari solusi. Ternyata sampah plastik bisa dikembalikan lagi menjadi bahan bakar,” ujar Lionardo.

Menurutnya, secara ilmiah proses tersebut sebenarnya mengembalikan plastik ke bentuk asalnya. Sebab, plastik berasal dari minyak bumi dan gas alam yang memiliki rantai karbon panjang.

Melalui teknologi pirolisis, rantai karbon panjang itu dipecah menjadi rantai karbon yang lebih pendek sehingga berubah menjadi bahan bakar cair.

“Prinsipnya kami memutus rantai karbon panjang menjadi rantai karbon pendek sekitar 5 sampai 20 atom karbon. Hasil akhirnya berbentuk cairan menyerupai solar,” jelasnya.

Produk BBM hasil olahan tersebut kemudian diberi nama Petasol, singkatan dari Polyethylene to Alternative Solar. 

Nama ini menggambarkan proses transformasi plastik berbahan polyethylene menjadi alternatif solar yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Saat ini, mesin pirolisis generasi keenam yang digunakan BSSI Melong 26 mampu mengolah hingga 75 kilogram sampah plastik per hari. 

Hampir seluruh jenis plastik dapat diproses, kecuali material berbahan PVC.

Dari kapasitas tersebut, BSSI mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 70 liter Petasol per hari, tergantung kualitas bahan baku yang masuk.

“Dengan bahan baku yang ada sekarang, rata-rata hasilnya 60 sampai 75 persen. Jadi sekali produksi bisa menghasilkan sekitar 60 sampai 70 liter BBM,” kata Lionardo.

Petasol kini mulai dimanfaatkan berbagai kalangan, mulai dari pemborong untuk operasional alat berat, petani, hingga nelayan yang kerap kesulitan mendapatkan BBM karena keterbatasan akses.

Lionardo menyebut harga jual Petasol dipatok Rp15 ribu per liter, lebih murah dibandingkan BBM kualitas serupa di pasaran.

Menurut dia, sasaran utama produk ini memang masyarakat kecil yang membutuhkan bahan bakar untuk aktivitas ekonomi sehari-hari.

“Petani sering kesulitan karena tidak bisa sembarangan membeli BBM menggunakan jeriken di SPBU. Nelayan juga punya kendala yang sama. Jadi kami ingin membantu mereka dengan alternatif ini,” ujarnya.

Tak hanya untuk mesin pertanian dan perahu nelayan, Lionardo mengklaim Petasol juga telah lolos berbagai pengujian kualitas.

Ia menyebut bahan bakar tersebut telah memenuhi 17 parameter standar solar terbarukan dan lulus uji performa hingga 50 ribu kilometer.

“Secara kualitas sudah sangat baik. Bahkan bisa digunakan untuk kendaraan premium,” pungkasnya.

Meski permintaan terus meningkat, kapasitas produksi Petasol saat ini masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang datang dari berbagai daerah.

Inovasi BSSI Melong 26 ini dinilai menjadi salah satu solusi konkret dalam menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengurangan sampah plastik dan penyediaan energi alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat. (Bagdja)

Penulis: Bagdja Sukmana Editor: Sinta Sukmana
Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600