Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
AgamaBeritaRagam Daerah

Teknologi Makin Cerdas, Manusia Jangan Kehilangan Akhlak: KH Yusuf Ali Tantowi Serukan Kejujuran dan Tanggung Jawab

115
×

Teknologi Makin Cerdas, Manusia Jangan Kehilangan Akhlak: KH Yusuf Ali Tantowi Serukan Kejujuran dan Tanggung Jawab

Sebarkan artikel ini
Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Bandung, KH. Yusuf Ali Tantowi, saat menyampaikan khutbah Jumat di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (11/9/2026).

Jawa Barat, Kab. Bandung l secondnewsupdate.co.id – Kemajuan teknologi yang semakin pesat harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas akhlak manusia. 

Kecerdasan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), jangan sampai membuat manusia justru kehilangan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

Example 300x600

Pesan tersebut disampaikan Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Bandung, KH. Yusuf Ali Tantowi, saat menyampaikan khutbah Jumat di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (11/9/2026).

Mengangkat tema “Ketika Teknologi Semakin Cerdas, Manusia Harus Semakin Beradab”, Yusuf mengingatkan bahwa kemampuan manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibarengi kematangan dalam menentukan tindakan.

Menurutnya, teknologi memang memberikan kemudahan luar biasa dalam memperoleh informasi, menghasilkan karya hingga menyampaikan pendapat. Namun, setiap kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi moral yang tidak boleh diabaikan.

“Tidak semua yang bisa kita lakukan berarti layak kita lakukan,” tegas Yusuf.

Ia menjelaskan, teknologi mampu mempercepat penyebaran pengetahuan, tetapi pada saat yang sama juga dapat memperluas dampak sebuah kekeliruan. 

Karena itu, kecakapan menggunakan teknologi harus disertai ketelitian memeriksa informasi, penghormatan terhadap hak orang lain, serta kesiapan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

Kemampuan Harus Berjalan Bersama Amanah

Yusuf menegaskan bahwa Islam menempatkan kemampuan dan amanah sebagai dua kualitas yang saling melengkapi.

Merujuk QS Al-Qashash ayat 26, ia menjelaskan bahwa kecakapan diperlukan agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. Sementara amanah menjadi penjaga agar kemampuan tersebut digunakan untuk tujuan yang benar.

“Kita tidak perlu merendahkan prestasi untuk meninggikan akhlak. Justru akhlaklah yang menjaga agar prestasi tetap terhormat,” ujarnya.

Dalam khutbah tersebut, Yusuf juga mengangkat pesan hadis mengenai misi Rasulullah ﷺ dalam menyempurnakan kemuliaan akhlak.

“Innamā bu‘itstu li utammima makārim al-akhlāq.”

Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan. Penguasaan ilmu tidak boleh dipisahkan dari pembentukan kepribadian.

Akhlak, kata Yusuf, bukan sekadar persoalan keramahan atau kesantunan dalam berbicara.

Akhlak juga tercermin dari kejujuran terhadap fakta, keadilan dalam mengambil keputusan, kesungguhan menyelesaikan pekerjaan, hingga keberanian mengakui kesalahan.

Pendidikan Bukan Sekadar Membentuk Orang Pintar

Yusuf kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan QS Al-Jumu‘ah ayat 2, yang memadukan pengajaran Kitab dan hikmah dengan proses penyucian jiwa.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya membuat manusia memahami kebenaran. Pendidikan juga harus menumbuhkan keberanian untuk mengikuti kebenaran tersebut, termasuk ketika bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Di lingkungan akademik, prinsip itu dapat diwujudkan melalui penilaian yang adil, penghargaan terhadap karya orang lain, pemeriksaan rujukan, serta penggunaan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.

Ia menegaskan bahwa kehadiran teknologi bukan berarti manusia dapat melepaskan tanggung jawab intelektualnya.

“Bantuan boleh mempermudah pekerjaan, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan tanggung jawab,” katanya.

Serukan Kejujuran Intelektual di Era Digital

Berlandaskan QS Al-Isra’ ayat 36, Yusuf juga mengajak jamaah membangun kejujuran intelektual.

Menurutnya, mengakui keterbatasan pengetahuan dan terbuka menerima koreksi merupakan bagian penting dari proses belajar. 

Sikap tersebut bukan hanya diperlukan mahasiswa dan dosen, tetapi juga orang tua, pemimpin, serta masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan akhlak itu juga diarahkan pada hubungan antarmanusia.

Yusuf menekankan bahwa penghormatan dan tanggung jawab harus berjalan secara timbal balik. 

Mahasiswa menghormati dosen, dosen menjaga martabat mahasiswa, pegawai menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, sedangkan pimpinan memberikan arahan dan penilaian secara adil.

Bagi dunia pendidikan, keteladanan menjadi kunci agar nilai-nilai moral tidak berhenti sebatas teori.

Mahasiswa belajar kejujuran ketika melihat pendidiknya berani mengakui kekeliruan. Anak belajar tanggung jawab ketika menyaksikan orang tuanya menepati janji.

Tiga Langkah Sederhana Menghadapi Era Teknologi

Menutup khutbahnya, Yusuf mengajak jamaah membiasakan tiga langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan informasi.

Kedua, mempertimbangkan hak orang lain sebelum bertindak.

Ketiga, segera memperbaiki kesalahan setelah menyadarinya.

“Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik. Namun, kita perlu berhenti membenarkan kesalahan hanya karena sudah terbiasa melakukannya,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi semestinya tidak hanya melahirkan manusia yang semakin cerdas, tetapi juga semakin beradab.

Ilmu diharapkan melahirkan kerendahan hati, ibadah memperkuat kejujuran, sementara teknologi menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan pengabdian kepada sesama. (Apih)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600