Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
AgamaBudayaEntertainmentInformatikaRagam Daerah

Hari Santri Nasional 2026: Ngatiyana Tantang Santri Cimahi Kuasai AI, Perkuat Akhlak, dan Jadi Motor Perubahan Menuju Indonesia Emas!

968
×

Hari Santri Nasional 2026: Ngatiyana Tantang Santri Cimahi Kuasai AI, Perkuat Akhlak, dan Jadi Motor Perubahan Menuju Indonesia Emas!

Sebarkan artikel ini
Dalam memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2026, Wali Kota Cimahi Ngatiyana melontarkan pesan penting bagi generasi santri di tengah derasnya arus transformasi digital.

Cimahi, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Wali Kota Cimahi Ngatiyana melontarkan pesan penting bagi generasi santri di tengah derasnya arus transformasi digital. 

Santri masa kini tidak cukup hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga dituntut menguasai ilmu pengetahuan modern, melek teknologi, serta mampu memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tanpa kehilangan jati diri, adab, dan nilai-nilai luhur pesantren.

Example 300x600

Pesan tersebut disampaikan Ngatiyana saat membuka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tingkat Kota Cimahi 2026 yang dipusatkan di Alun-Alun Kota Cimahi, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini dihadiri para santri, ulama, kiai, serta pimpinan pondok pesantren se-Kota Cimahi.

Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan HSN tahun ini menjadi momentum strategis untuk menegaskan bahwa santri bukan sekadar penjaga tradisi keagamaan, melainkan juga aset intelektual bangsa yang memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan zaman dan menentukan arah masa depan Indonesia.

Ngatiyana menegaskan, Hari Santri tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. 

Lebih dari itu, peringatan ini harus menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada persenjataan dan kekuasaan, tetapi juga pada keteguhan iman, keluasan ilmu, keberanian moral, dan kecintaan terhadap Tanah Air.

Semangat Resolusi Jihad yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa, lanjutnya, merupakan bukti bahwa komitmen terhadap agama dan nasionalisme dapat berjalan beriringan dalam membangun Indonesia yang berdaulat, bermartabat, dan berkeadilan.

“Santri harus mampu menjawab tantangan zaman. Penguasaan ilmu agama harus berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi,” demikian pesan yang ditekankan dalam arahannya.

Santri Harus Berani Melangkah ke Era Digital, AI Bukan untuk Ditakuti

Dalam pandangan Ngatiyana, perkembangan teknologi digital, termasuk AI, merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. 

Karena itu, generasi santri perlu memiliki keterbukaan terhadap inovasi agar tidak tertinggal dalam persaingan global.

Teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, penelusuran informasi, penguasaan bahasa asing, penelitian, hingga pengembangan gagasan kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Namun, kemajuan teknologi juga menuntut kecermatan berpikir dan tanggung jawab moral. 

Santri tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menilai manfaat, mengenali keterbatasan, serta memeriksa kebenaran informasi yang diperoleh.

Di sinilah pentingnya tradisi intelektual pesantren yang mengedepankan ketelitian, kedalaman pemahaman, penghormatan terhadap sumber ilmu, dan bimbingan para guru.

Khusus dalam mempelajari ajaran Islam, Ngatiyana mengingatkan agar santri tetap menjadikan Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab muktabar, serta bimbingan ulama yang kompeten sebagai rujukan utama. 

AI dapat membantu proses pencarian dan pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan kedalaman ilmu, kebijaksanaan, adab, maupun otoritas keilmuan yang diperoleh melalui proses pendidikan.

Dengan demikian, kemajuan digital seharusnya memperkuat kapasitas santri, bukan menggerus nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi pendidikan pesantren.

Ilmu Tinggi Harus Berjalan Seiring Akhlak Mulia

Selain penguasaan teknologi, Ngatiyana menempatkan pembentukan karakter sebagai fondasi utama dalam mencetak generasi santri yang unggul.

Ia menekankan pentingnya kejujuran, amanah, kedisiplinan, kerendahan hati, serta penghormatan kepada guru dan orang tua. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi modal mendasar agar kecerdasan dan keterampilan tidak kehilangan arah ketika dihadapkan pada berbagai kepentingan dan tantangan kehidupan.

Santri, menurutnya, harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kepekaan sosial. 

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga dari kemampuan menerapkan ilmu untuk menghadirkan kebaikan.

Pesantren pun diharapkan terus menjadi pusat pembentukan manusia yang berintegritas, memiliki daya juang, serta mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.

Ngatiyana juga menyoroti empat modal penting yang perlu terus diperkuat oleh santri, yakni kedalaman ilmu, ketangguhan karakter, tradisi keilmuan yang kokoh, dan keberanian berinovasi.

Keempatnya merupakan bekal agar santri tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga tampil sebagai pelaku perubahan yang memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional.

Pembangunan Cimahi Tak Cukup dengan Infrastruktur

Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana menegaskan bahwa pembangunan Kota Cimahi tidak dapat hanya berorientasi pada pembangunan fisik, seperti jalan, gedung, dan berbagai fasilitas publik. Pembangunan sumber daya manusia juga harus mendapatkan perhatian yang seimbang.

“Pemerintah Kota Cimahi menyadari bahwa membangun kota tidak cukup hanya dengan membangun jalan, gedung, dan infrastruktur. Kita juga harus membangun manusianya, menguatkan iman, memuliakan akhlak, memperluas ilmu, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk berkembang,” ujar Ngatiyana.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kualitas manusia merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan. Infrastruktur yang memadai perlu ditopang masyarakat yang terdidik, berkarakter, memiliki keterampilan, dan mampu menghadapi perkembangan zaman.

Dalam konteks itu, keberadaan pondok pesantren memiliki posisi strategis sebagai mitra pembangunan, terutama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat.

Pemerintah daerah, pesantren, lembaga pendidikan, ulama, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi agar potensi santri dapat berkembang secara optimal serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sinergi Pesantren dan Pemerintah Menuju Indonesia Emas

Ngatiyana berharap pondok pesantren di Kota Cimahi terus melahirkan generasi yang kuat dalam keimanan, luas dalam wawasan, santun dalam perilaku, serta terampil memanfaatkan perkembangan teknologi.

Santri juga didorong untuk berani mengembangkan gagasan, menciptakan inovasi, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Dengan bekal tersebut, santri diharapkan dapat mengambil peran di berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pengembangan teknologi.

Ia turut menegaskan pentingnya perhatian berkelanjutan pemerintah daerah terhadap pesantren dan para santri.

Dukungan tersebut perlu berjalan seiring dengan penguatan sinergi antarpemangku kepentingan, sekaligus menjaga kerukunan, persatuan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kota Cimahi pada akhirnya menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas; tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami batasan etika; serta tidak hanya berorientasi pada kemajuan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Santri masa kini harus mampu merawat warisan keilmuan pesantren sekaligus menembus batas kemajuan zaman. Dengan perpaduan iman, ilmu, akhlak, dan inovasi, santri diharapkan menjadi kekuatan strategis dalam membangun Kota Cimahi yang semakin maju sekaligus berkontribusi mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas. (Bagdja)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600