HukumKasusKesehatanRagam Daerah

Keracunan MBG di Cianjur, 204 Siswa SD dan PAUD Jadi Korban

182
Aktivis Nasional Putri Nabila Damayanti, SH, yang juga merupakan putri asli Kecamatan Pacet Cipanas, Cianjur, menyayangkan kembali terjadinya kasus keracunan MBG.

Cianjur//secondnewsupdate.co.id – Kasus dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. 

Kali ini, peristiwa tersebut menimpa ratusan siswa di wilayah Cikalongkulon, Kadupandak, dan Sukanagara, Kabupaten Cianjur. Insiden yang terjadi pada Selasa lalu itu mengakibatkan 204 orang siswa mengalami gejala keracunan.

Mayoritas korban merupakan anak-anak berusia di bawah 10 tahun yang berstatus sebagai siswa Sekolah Dasar (SD) dan PAUD. 

Selain para pelajar, sejumlah orang tua murid yang ikut mencicipi hidangan MBG juga harus dilarikan ke puskesmas terdekat karena mengalami mual hebat, pusing, hingga muntah-muntah.

Polisi Lakukan Penyelidikan

Kapolsek Cikalongkulon menyampaikan bahwa pihak kepolisian saat ini tengah melakukan investigasi mendalam terkait menu makanan yang dikonsumsi para siswa.

Berdasarkan laporan warga, muncul kecurigaan terhadap lauk ayam suwir yang tercium aroma tidak sedap sebelum dikonsumsi.

Seluruh sisa makanan MBG telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium, guna memastikan penyebab pasti dari kejadian yang mengundang keprihatinan banyak pihak tersebut.

Menanggapi kejadian tersebut, Aktivis Nasional Putri Nabila Damayanti, SH, yang juga merupakan putri asli Kecamatan Pacet Cipanas, Cianjur, menyayangkan kembali terjadinya kasus keracunan MBG.

Ia menegaskan bahwa sebelumnya telah mengimbau agar pelaksanaan MBG dilakukan langsung oleh masing-masing sekolah, bukan oleh pihak ketiga.

“Jika pelaksanaan MBG dilakukan oleh pihak sekolah, ini akan lebih praktis, sehat, dan terjaga kebersihannya. Secara otomatis, keracunan seperti ini tidak akan terjadi,” ungkap Putri Nabila Damayanti, SH, kepada awak media, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, pengelolaan oleh pihak sekolah juga memungkinkan penyesuaian menu dengan selera anak-anak, tanpa mengesampingkan nilai gizi.

“Kalau dikelola pihak sekolah, tentu akan lebih mengetahui menu yang disukai anak-anak dan tetap bernilai gizi,” ujarnya.

MBG Dinilai Bukan Proyek Bisnis

Lebih lanjut, Putri menekankan pentingnya pengelolaan MBG oleh pihak sekolah agar program tersebut tidak bergeser menjadi proyek bisnis semata.

“Jika MBG dikelola oleh pihak sekolah, maka program ini tidak akan menjadi proyek para pengusaha dengan keuntungan besar setiap hari, melainkan bisa menjadi pemasukan atau tambahan bagi guru-guru di sekolah,” tuturnya.

Kasus keracunan ini menjadi peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan agar evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis segera dilakukan, demi menjamin keamanan, kesehatan, dan keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat utama program tersebut. (Megy)

Exit mobile version